Permainan Tradisional dan Kembalinya Dunia Anak-Anak


Tiga anak yang sedang bermainan permainan tradisional Blarak Sempal di lapangan dekat kelurahan Nongkosawit. [Doc. BP2M/  Lala Nilawanti]

Muncul kekhawatiran dengan keberadaan game online yang akan menggeser tingkat kepedulian sosial anak-anak terhadap lingkungannya.

Linikampus- Permainan tradisonal seperti petak umpet, gobak sodor, kelereng, kini mulai jarang  dimainkan oleh anak-anak dibandinkan dengan game online yang bervariasi. Pemandangan tersebut sempat tampak di Kelurahan Nongkosawit RW 2. Ada tiga sampai empat anak kecil Sekolah Dasar (SD) dengan gawai digenggamannya saat ditemui di pos ronda kelurahan. Mereka sedang asik memainkan game online di gawainya.

Dalam kesempatan acara Semarang Folklore Festival 2018 yang diadakan Sabtu, (15/12) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Semarang, Desa Wisata Nongkosawit menggali dan mengembangkan potensi desa wisata setempat. Dalam acara tersebut menampilkan tiga jenis permainan tradisional. Permainan tersebut dimainkan oleh perwakilan anak-anak SD N Nongkosawit 1 dan perwakilan peserta tur Folklore Festival Semarang.

Acara tersebut mengusung tiga permainan. Permainan Blarak Sempal, Kirab Blarak, dan Ulo-Ulo Cabe. Ketiga jenis permainan tradisional tersebut hanya butuh media yang sederhana. Blarak Sempal merupakan permainan yang menggunakan pelepah daun kelapa yang sudah jatuh di tanah lalu dikaitkan dengan tali sebagai pegangan Si Pengemudinya. Permainan ini membutuhkan keseimbangan karena pemainnya harus berdiri. Si Pemain berdiri di atas batang pelepah dan memegang tali yang sudah kaitkan. Lalu pegangan yang ada di depan ditarik oleh satu atau dua orang yang kuat, sehingga blarak (daun pelepah kelapa) dapat berjalan. 

Ulo-Ulo Cabe cukup dimain oleh 6-8 anak dengan ketentuan satu orang sebagai kepala ular dan yang lain sebagai tubuh ular. Permainan ini membutuhkan kecepatan karena Si Kepala Ular harus berlari untuk mencapai ekor. Saat Si Kepala Ular berlari mengejar ekor maka tubuh ular juga harus menghindar agar Si Kepala tidak menyentuh ekor. Jika Si Kepala berhasil menyentuh ekor, itu tandanya permainan selesai.

Acara Folklore Festival seperti ini dapat dijadikan sebagai upaya sosioalisasi permainan tradisional dengan partisipasi anak-anak. “Ya, seneng. Bisa kumpul temen-temen,” cerita Nining (12), salah satu anak yang berpartisipasi dalam permainan.

Tampak antusiasme pengunjung desa wisata dan anak-anak dalam menikmati ketiga permainan tradisional tersebut. Pengunjung ikut berpartisipasi mengikuti permainan di lapangan. Ketiga permainan ini sudah jarang ditemukan di era sekarang. Sayangnya permainan tradisional ini hanya dimainkan saat ada acara-acara seperti ini. 

Supriyanto sebagai pemandu permainan tradisional di acara tersebut memaparkan, permainan tradisional memiliki dampak positif, yaitu menyehatkan tubuh karena dengan bermain permainan tradisional tubuh menjadi aktif untuk bergerak, melatih anak untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, dan melatih bentuk kerjasama tim. 

“Dengan adanya game online, anak-anak seolah dininabobokkan sehingga permainan tradisional kini mulai jarang ditemukan. Selain itu, anak-anak bisa saja menjadi individualis seperti memiliki dunia sendiri”, terangnya. 

Supriyanto khawatir dengan keberadaan game online kian menggeser tingkat kepedulian sosial anak-anak di lingkungannya. Hal itu karena anak-anak saat ini dengan mudahnya memperoleh fasilitas gawai dari orang tua. Orang tua sendiripun berpikir dengan memberikan gawai adalah cara terbaik agar anak tetap aman dan mudah diawasi. Pemberian gawai di kalangan usia anak-anak saat masa pertumbuhan dan perkembangan emosional yang belum matang justru dapat memberikan dampak buruk. Salah satunya, yaitu tingkat kepekaan sosial yang rendah. 

“Harapannya dengan adanya acara-acara seperti ini, mari kita kenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak. Istilahnya agar mereka bisa nguri-nguri budayane dewe”, tutur Supriyanto.  

[Nurti, Diki, Futwi, Niamah, Retno]


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Permainan Tradisional dan Kembalinya Dunia Anak-Anak"

Posting Komentar