Melihat Kemanusiaan di Segitiga Setan



Cover depan buku Orang-orang Gila Karya Han Gagas. [Doc BP2M/Sibad]

Oleh Siti Badriah


Orang-orang yang hidup dan bekerja di jalanan tentu memiliki alasan. Gelandangan butuh makan untuk tetap hidup, maka mereka mengemis atau memulung. Orang dengan kebutuhan mendesak bisa menjadi pencuri, pembunuh, dan perempuan bisa menjadi pelacur karena tak ada cara lain yang bisa dilakukannya. Kerasnya hidup di tengah masyarakat dengan stigma buruk membuat mereka tertekan secara mental. Maka tahanan, lokalisasi pelacuran, dan rumah sakit jiwa mungkin menjadi akhir kehidupan mereka.

Han Gagas melalui Orang-Orang Gila menceritakan penderitaan orang-orang bernasib buruk seperti Marno dan Astrid. Mereka diceritakan sebagai dua orang gila dari sudut pandang berbeda. Penderitaan masa lalu keduanya ternyata menjadi pemicu munculnya gangguan-gangguan kejiwaan. Han telah meramu dan menuliskan jalan kehidupan keduanya sehingga kaya akan pesan dan kritik sosial di masyarakat.

Stigma buruk terhadap orang-orang yang hidup di jalanan, yang dekil, jelek, dan bau seperti Marno membuat mereka diasingkan, dijauhi, dan dipukul semaunya. Bahkan di kalangan sesamanya, ia masih menerima kekerasan. “Seorang pemulung merebut karung Marno. Seorang yang lain menendang dan nyaris memukulnya, untung Marno cepat berkelit, berhasil menghindari serangan itu.”

Melalui Marno, Han juga mengkritik perawatan orang gila di Panti Rehabilitasi Mental yang tidak manusiawi. Seperti yang ia gambarkan setelah petugas menyemprot Marno yang tengah meringkuk kesakitan dengan selang. “Si petugas tersenyum, air mukanya mengejek, puas. Seringai lebarnya bila dilihat lebih teliti tampak sangat mengerikan, barangkali iblis benar-benar merasuki jiwanya.” (hal. 6)

Penelitian Human Right Watch tahun 2016 menunjukkan bahwa di beberapa pusat rehabilitasi mental di Indonesia, perawatan terhadap orang ‘gila’ memanglah demikian. Perawat yang kasar, tempat yang kumuh dan kotor, kekerasan fisik, serta pelecehan seksual kepada perempuan penderita ODGJ menjadi buktinya.

Padahal, mereka memiliki hak untuk diperlakukan layaknya orang normal. Gangguan jiwanya justru membuat mereka menjadi makhluk super sensitif. Meski tidak di semua tempat rehabilitasi, kejadian tersebut perlu mendapat perhatian. Karena kesembuhan mereka sangat bergantung dari perlakuan orang-orang di sekitarnya.

Perempuan di balik lokalisasi
Maraknya lokalisasi di Indonesia sempat menjadi topik hangat di masyarakat. Penutupan beberapa tempat tersebut justru membuatnya semakin menyebar di banyak tempat. Han dengan jeli mengisahkan bagaimana Pekerja Seks Komersial (PSK) menjalani kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Melalui tokoh Lisa, Han juga menunjukkan bagaimana lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Melihat Lisa, saya teringat pula pada teori belajar sosial Albert Bandura. Ia menyatakan bahwa sifat anak akan sesuai dengan lingkungan di mana ia tumbuh.  Terbukti, Lisa kecil yang dipaksa mengetahui masalah seks orang dewasa sebelum umurnya, menjadi PSK saat masih remaja.

Han mengisahkan sisi kemanusiaan para PSK. Di balik pekerjaan buruk itu, mereka sebenarnya menahan luka. Jika diminta memilih, tentu mereka tak menginginkan pekerjaan tersebut. “Namun, nasib sering kali pahit, sering menyakitkan, gadis baik jadi pelacur, gadis jalang jadi panutan.” (hal 130). Namun ketika mereka berpikir untuk kembali menjadi gadis ‘baik’, mereka bertaruh dengan kehidupannya.  Hal itu pula yang dialami oleh Astrid. “Astrid merasa ia seharusnya tak hidup sebagai pelacur. Isi hatinya lebih memilih hidup yang wajar.”(hal 141)

Dalam bukunya, Han mengambil latar tempat yang ia sebut sebagai segitiga setan. “Segitiga setan, tiga tempat yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai tempat terkutuk, yakni rumah tahanan, lokalisasi pelacuran, dan rumah sakit jiwa.” Han Gagas menggambarkan sisi kemanusiaan orang-orang di tempat tersebut. Stigma buruk terhadap tiga tempat itu ternyata membuat masyarakat kita buta. Maka Han mencoba membuka mata dan hati pembaca.

Mereka (psikopatolog) bukanlah orang-orang gila. Mereka hanya menanggung penderitaan yang lebih berat dari kita. Sesungguhnya mereka sedang menangis tanpa suara, menanti datangnya pertolongan yang akan menyelamatkan mereka dari nasib buruk tersebut. Maka bersyukurlah kita yang bernasib baik, memiliki pekerjaan dan kehidupan yang layak. Sehingga kewarasan masih bersama kita. Jangan sampai, kita justru menjadi ‘gila’ dengan membiarkan nasib buruk membunuh saudara-saudara kita.
Pemimpin Redaksi Buletin Expres 2018
Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Semarang

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melihat Kemanusiaan di Segitiga Setan"

Posting Komentar