Data Akun Medsos Tidak Ditanggapi Serius


Unnes mewajibkan Mahasiswa dan warga Unnes lainnya untuk mencantumkan akun media soialnya ke sistem Unnes. [Ilustrator BP2M/ Lala Nilawanti]


Universitas Negeri Semarang (Unnes) mewajibkan seluruh mahasiswa, dosen dan tenaga pendidik untuk mencantumkan akun media sosialnya ke http://my.unnes.ac.id Kewajiban tersebut merupakan tindak lanjut adanya imbauan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) untuk menangkal radikalisme di lingkungan Perguruan Tinggi (PT). Beberapa mahasiswa pun mempertanyakan kegunaan pencantuman media sosial tersebut.

Khusnul Khotimah, mahasiswa baru Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin 2018 mengaku tidak mengetahui dan masih mempertanyakan kegunaan  pencantuman media sosialnya. Menurutnya, media sosial merupakan salah satu privasi seseorang dan dengan adanya instruksi tersebut, dia pun merasa terkekang. “Saya masih mempertanyakan kegunaan pencantuman itu, media sosial kan merupakan privasi seseorang,” tutur Khusnul.

Baca Juga : Kebijakan yang Tidak Matang

Merespon imbauan dari Menristekdikti
Instruksi tentang pencantuman media sosial didasarkan pada  imbauan Menristekdikti Mohamad Nasir setelah adanya rapat koordinasi Penangkalan Paham Radikalisme di PT. Rapat yang dilaksanakan pada 25 Juni 2018 di Jakarta tersebut menghasilkan kesepakatan dan kesepahaman pimpinan PT bahwa radikalisme merupakan musuh bersama. Meski baru imbauan, Unnes sudah melakukan tindak lanjut dengan memberlakukan kewajiban.

Hendi Pratama, Kepala UPT Humas Unnes mengatakan bahwa kewajiban ini diterapkan sebagai bentuk pembinaan karakter, tanggung jawab pribadi, dan bentuk pembinaan kepada warga Unnes agar menggunakan media sosial dengan bijak. Saat ditemui di tempat berbeda Ketua Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPT TIK) Mona Subagja mengatakan hal yang sama. Dia menambahkan jika pencantuman tersebut digunakan untuk menangkal berita negatif seperti SARA(Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) dan ujaran kebencian soal Unnes.

Pencantuman tersebut diberlakukan bagi seluruh civitas academica Unnes. Bagi mahasiswa lama pengisian tersebut wajib dilakukan sebelum melihat pengumuman hasil studi yang dapat diakses pada 23 Juli 2018. Mahasiswa baru jalur SNMPTN, SBMPTN maupun Seleksi Mandiri mencantumkan media sosialnya saat pengisian data pokok. Bagi pegawai dan tenaga pendidik sendiri dilakukan melalui laman simpeg.unnes.ac.id dan diberlakukan sejak adanya kewajiban tersebut. Ada tiga pilihan akun media sosial yang wajib dicantumkan yaitu instagram, facebook, dan twitter.

Menurut Mona, hingga saat ini dat media sosial mahasiswa sudah seratus persen. “Otomatis ya semua mahasiswa, karena jika tidak mencantumkan akun media sosial tidak bisa melihat hasil studinya,” kata ketua UPT TIK itu. Meski begitu, ternyata masih  ada mahasiswa yang tidak  mencantumkan akun media sosial sebelum melihat nilai.

Mahasiswa bisa melihat nilai pada laman https://apps.unnes.ac.id. Mereka diwajibkan mengisi akun media sosialnya ke http://my.unnes.ac.id untuk dapat mengakses nilai dari sub menu Nilai Hasil Studi. Meski demikian, ada mahasiswa yang tetap dapat mengakses nilai tanpa mencantumkan akun medsosnya. Mereka mengakses nilai melalui sub menu Histori Nilai dan Rekap Nilai. Tim BP2M pun mencoba melihat nilai melalui sub menu Histori Nilai sebelum melalui sub menu Nilai Hasil Studi. Hasilnya, kami bisa melihat nilai tanpa mencantumkan akun medsos terlebih dahulu. 

Bambang Budi Raharjo, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan menyatakan tidak ada sanksi apabila mahasiswa mencantumkan akun palsu. Ia menilai jika yang dicantumkan adalah akun palsu, maka mereka mempunyai iktikad yang tidak baik. “Kalau bagi saya akun media sosial saya ya akun saya yang asli. Ketika mahasiswa menggunakan akun bodongartinya mereka sudah tidak ada niat baik. Pada intinya berani memamerkan identitas yang asli adalah jiwa perwira, jiwa ksatria. Mau dipantau atau tidak, tidak masalah jika memang langkahnya baik,” tegasnya.

Berkaitan dengan pencantuman tersebut, Unnes juga tidak mengecek validitas akun yang telah dilaporkan. Adanya pendataan akun media sosial ini hanya digunakan untuk mempermudah penindaklanjutan atas laporan tentang SARA dan ujaran kebencian di media sosial. Pendataan dilakukan agar mempermudah pelacakan identitas jika ada akun tidak bertanggung jawab yang melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). 

Mona menuturkan bahwa tidak ada pemantauan secara berkala terhadap media sosial tersebut. Jika ada indikasi atau laporan tentang ujaran kebencian di media sosial, barulah UPT TIK akan merespon dengan cepat dan melakukan pengecekan validitas akun tersebut, apakah berasal dari warga Unnes atau tidak.

Sementara itu, beberapa mahasiswa PT di Semarang mengungkapkan bahwa belum ada penetapan kebijakan baik berbentuk instruksi maupun imbauan dari pihak universitas untuk mencantumkan akun media sosialnya. Diantara universitas tersebut adalah Undip, UIN Walisongo, Unissula, Unwahas dan Upgris. (DHEA, Indri, ANM, Abu)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Data Akun Medsos Tidak Ditanggapi Serius "

Posting Komentar