Sedulur Kendeng Tagih Jargon Konservasi Unnes



Semarang, Linikampus.com - Selasa (12/12) Gedung Rektorat Universitas Negeri Semarang disambangi sedulur Kendeng. Bersama kumpulan mahasiswa Unnes yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Unnes Peduli Konservasi, mereka menagih janji persoalan penambangan dan pendirian pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng.

Sedulur Kendeng yang diwakili sepuluh wanita dan dua laki-laki asal Pati menuntut jargon “konservasi” Unnes untuk benar-benar direalisasikan. Mereka menginginkan agar Unnes benar-benar ikut andil dalam melindungi Kendeng.

Sukinah (41) salah satu wanita dari Sedulur Kendeng, berharap kampus Unnes yang berjargon konservasi ini turut berpartisipasi dalam kasus Kendeng yang diketahui saat ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama Rektor dan para dosen serta para akademisi Unnes. 

“Konservasi yang ada di Unnes masih sebatas kita budidayakan dalam lingkungan kampus. Namun, kami dari pihak Unnes akan mencoba untuk ikut andil dengan cara mengirimkan tenaga ahli untuk penelitian di sana serta adanya pengabdian masyarakat bagi mahasiswa yang akan terjun kesana,” jelas Rektor Unnes, Fathur Rokhman.

Atas respon Rektor Unnes, Aliansi Mahasiswa yang mendampingi Sedulur Kendeng mengimbau untuk terus mengawal kebijakan Rektor Unnes atas kasus Kendeng tersebut.

Haris Akhmad Muzaki, salah seorang dari mahasiswa Peduli Kendeng menyatakan kekecewaannya atas respon Rektor Unnes yang dianggap masih perlu kajian untuk menyatakan sikapnya terhadap Kendeng.

“Saya berharap ketika Unnes telah memegang teguh jargon konservasinya kemudian patuh kepada tri darma perguruan tinggi, semestinya Unnes tanpa basa-basi menetapkan sikap mendukung gerakan dari Ibu-Ibu Kendeng yang menolak pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Sebab hal itu jelas merusak lingkungan yang ada,” tegas Haris. [Lala, Fiskal]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sedulur Kendeng Tagih Jargon Konservasi Unnes"

Posting Komentar