Musik Sebagai Platform Menyampaikan Pesan


BP2M/Doni, Killing Me Inside tampil sebagai penutup acara Inaugurasi (20/10) di Lapangan Dumadi FIK Unnes.

Penampilan gahar dari Killing Me Inside menyatakan usainya rangkaian acara pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa untuk Mahasiswa Baru Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Semarang, Linikampus.com – Acara Inaugurasi Universitas Negeri Semarang telah digelar Jumat lalu (20/10) di Lapangan Prof. Dumadi, Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes.

Acara tersebut menandakan akhirnya serangkaian acara pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sudah dimulai sejak Unnes Fair pada tanggal 19-20 September 2017.

Inagurasi tahun ini mengangkat tema “Metamorpassion” yang terinspirasi dari metamorfosis burung Phoenix.

Harapannya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unnes bisa memiliki perjuangan seperti burung Phoenix yang hanya dari sebuah abu, namun bisa menjadi burung abadi.

“Kita tuh pengen, UKM-UKM nih yang sekarang masih loyo-loyo untuk kedepannya lebih bangkit lagi untuk menelurkan karya-karya nyatanya,” ucap Rani Evita Sari, koordinator acara.

Pada Inaugurasi Unnes tahun ini, Killing Me Inside dipilih untuk merayakan acara penyambutan Mahasiswa Baru (Maba).

“Ini kan sebenarnya acara untuk penyambutan maba, kayaknya enak nih buat diajak joget. Jadi kita ingin, ketika kita datang kita joget bareng, kita bisa have fun disini,” jelas Rani.

Fawwaz Satrio Abrianto, Mahasiswa PJKR Unnes tahun 2016, berpendapat, “acaranya lebih meriah dari tahun lalu menurut saya, walaupun sedikit molor tapi karena band nya sendiri juga lebih terkenal, lebih lama gakpapa, malah lebih suka.”

Killing Me Inside adalah band asal Jakarta Selatan yang dikenal sebagai band emo oleh masyarakat, walaupun juga menelurkan karya dengan genre pop.

Killing Me Inside tampil dengan anggota Josaphat Klements (Gitar), Rudye Nugraha Putra (Keyboard dan back. Vokal), Angga Tetsuya (Bass), ditambah additional player di drum dan juga membawa AIU (Vokal), mantan vokalis Garasi untuk mengisi bagian penyanyi.

Mereka menampilkan tujuh lagu yang tidak hanya berisi lagu dari Killing Me Inside, tapi mereka juga membawakan satu lagu dari Garasi, yaitu Hilang.

Dengan proyek baru bersama AIU, Killing Me Inside telah menghasilkan satu single yang berjudul Fractured yang berarti sebuah keretakan.

“Lagu baru ini sendiri menceritakan sebuah keretakan dalam sebuah hubungan yang disebabkan oleh masing-masing pihak yang terlalu mengedepankan egonya, sehingga kurang bisa menyadari makna dari bersatu itu,” ujar Rudye, disela-sela Meet & Greet di Gedung Serba Guna (GSG) FIK.

Killing Me Inside tidak hanya sekali ini saja menggunakan sebuah lagu untuk menyampaikan pesan.

Pada tahun 2015, mereka berkolaborasi dengan band pop-punk Rocket Rockers untuk menciptakan yang mengandung pesan dukungan pada para pengidap penyakit AIDS.

Ketika ditanya apakah beberapa lagunya diciptakan guna menyampaikan suatu pesan untuk masyarakat, Rudye pun mengamini hal itu.

“Musik itu sebagai sumber untuk mengekspresikan diri dan juga sebagai cara menyampaikan pesan apa yang saya tangkap untuk masyarakat luas, sebagai edukasi juga,” tambah Rudye. [Doni/Sizum]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Musik Sebagai Platform Menyampaikan Pesan"

Posting Komentar