Sebuah Kontemplasi Ketuhanan



Oleh: Yunita Puspitasari 
Judul : Semua Ikan di Langit
Pengarang : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
Tahun : Februari, 2017
ISBN : 9786023758067

Novel ini berkisah tentang perjalanan sebuah bus Damri yang terbang bersama ikan julung-julung dan seorang anak laki-laki bermantel besar. Satu hal yang unik, tidak ada konflik serius di dalamnya. Hanya saja, tiap etape cerita dikisahkan mengalir dari sudut pandang sebuah bus gembrot biasa. Narasi yang dituturkan oleh sang bus khas bocah kecil nan lugu. 

Bus Damri yang pindah trayek ke luar angkasa itu didaulat menjadi narator dalam menjejaki tiap etape cerita. Pertemuannya dengan anak laki-laki bemantel besar yang dipanggil dengan sebutan Beliau itu membawanya berkeliling ke tempat-tempat baru di luar angkasa dan bertemu makhluk-makhluk ajaib. 

Ziggy, sang penulis agaknya ingin bermain-main dengan penamaan tokohnya. Panggilan Beliau yang disematkan kepada anak lelaki yang memakai jubah kebesaran dan gemar menciptakan banyak hal itu tiada perlu alasan khusus. Sebutan Beliau yang dipanggil bus hanyalah sebagai bentuk cara memanggil seseorang yang dianggap istimewa. Masalah penamaan bukan suatu hal penting bagi Beliau. 

“Hm. Mungkin bagi seseorang seperti Beliau, ini cuma perkara semantik. Terlalu sepele. Orang aneh sering mendapat julukan dan label; orang yang sangat hebat sering menerima gelar; dan Beliau adalah gabungan keduanya. Selain Gusti, mungkin sudah ada banyak orang yang memberikan sebutan lain.” (Halaman 88) 

Novel yang menggunakan gaya surealisme ini bak konstelasi dongeng yang dituturkan sederhana namun berbobot pada makna. Rombongan bus Damri yang terbang itu terus melintasi langit menjumpai beragam petualangan yang dituturkan secara menarik penuh imajinasi khas anak-anak. Novel yang bisa disebut surealis ini fantasinya terasa filosofis, penuh perbandingan dan pengandaian. Saat membaca beberapa lembaran awal, agak sulit bagi saya untuk menalar kalimat demi kalimat yang dideskripsikan dalam novel, namun setelah semakin jauh, saya cukup menikmati jalan ceritanya. Membaca novel ini tak ubahnya menyelami dongeng sebelum tidur yang penuh makna. 

Ekspektasi awal membaca novel ini adalah kita akan diajak mengelilingi dunia baru dengan bus kota lalu menjumpai beragam hal menyenangkan di sana. Ternyata novel ini menyajikan hal di luar ekspektasi saya sebagai pembaca. Bisa dibilang novel ini memang tanpa konflik, namun Ziggy mengemas cerita dengan narasi yang begitu apik. 

Salah satu bagian kisah yang dituturkan dalam cerita mengingatkan pada kisah Nabi Ibrahim, tentang seorang anak laki-laki yang dibakar namun tiba-tiba api yang semula panas menjadi dingin. Dituturkan pula kisah mengenai Beliau yang mengusir salah satu cahaya dari surga karena menolak mencintai manusia ciptaan Beliau. Hal itu serupa dengan kisah asal mula penciptaan Nabi Adam. Ziggy seolah ingin menegaskan bahwa yang lebih penting daripada mencintai-Nya adalah mencintai segala hal yang Dia cintai. 

Pada saat pengumuman pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016, novel ini disebut-sebut mengingatkan kita pada novel karya Antoine de Saint-Exupérys berjudul Le Petit Prince (1994). Gaya penuturan yang dekat, tentang anak-anak memikirkan dunia, Tuhan, dan sebagainya. Sedangkan novel ini dituturkan melalui sudut pandang bus kota biasa yang terbang ke luar angkasa. 

Novel tanpa konflik serius ini sepenuhnya berbicara mengenai upaya mencintai dan mengasihi. Ziggy mengajak pembaca untuk merenungkan banyak hal di antaranya kehidupan dan kemahakuasaan Tuhan. Penulis seolah ingin membuka mata bagaimana semestinya kita mencintai-Nya. Satu hal yang disoroti Ziggy dalam novelnya ini mengajak kita berkontemplasi ihwal Ketuhanan. 

Umumnya, seorang hamba terlalu sibuk menunjukkan kecintaan pada Sang Pencipta hingga lupa mencintai makhluk lain ciptaan-Nya. Melalui tokoh bus Damri yang begitu mencintai Beliau, kita diajak merefleksi ulang hubungan antara manusia dan pencipta-Nya. Sebagai ciptaan-Nya, bagaimanapun keadaan kita, hendaknya cinta kita pada-Nya tak akan berkurang sedikitpun. 

Seperti halnya bus gembrot itu memikirkan upaya seperti apa yang akan dilakukan demi menyenangkan Beliau, meski sadar bahwa ia tak memiliki tangan untuk memeluk dan tak memiliki kaki untuk menyembah serta berlutut di hadapan Beliau, namun Beliau sangat memahami itu. Sebagaimana kita tahu, Tuhan tidak menuntut makhluknya melaksanakan beragam hal, sebab yang perlu kita lakukan hanyalah mencintai-Nya dengan cara kita masing-masing. Rasa cinta kita-lah yang penting untuk-Nya. Tuhan menciptakan kita sebagai manusia dengan hati yang besar supaya bisa mencintai banyak hal sebagaimana Tuhan mencintai seluruh jagad raya dan seisinya. 

*Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia 2014

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sebuah Kontemplasi Ketuhanan"

Posting Komentar