Retrospeksi Peradaban Lombok



Oleh: Yunita Puspitasari

Judul             : Medulla Sinculasis (Suatu Hari di Bulan Desember)
Penulis          : Paox Iben Mudhaffar
Penerbit         : Institut Rumah Arus (IRuS)
Kota Terbit    : Mataram, Lombok
Cetakanke      : I, Januari 2011
ISBN              : 979-1698-045-94-7

Maka buatlah sesuatu yang berbeda, yang paling unik, dan yang paling penting, digemari orang berduit. Apa karena itu yang membuat harga sebuah karya seni menjadi mahal? Barangkali itu memberikan celah bagi Nuruda untuk memperoleh pemasukan untuk mewujudkan niat baiknya membangun kembali peradaban manusia di Ampenan, sudut Pulau Lombok yang mulai mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Tentu dengan daya kreatifnya, Nuruda memanfaatkan bangunan tua milik orang Belanda untuk dijadikan galeri pameran lukisan para seniman Lombok. Pembukaan galeri itu dihadiri oleh para pejabat daerah Lombok juga diekspos oleh media-media nasional. Dalam waktu relatif singkat, galeri yang dirintisnya semakin dikenal. Tempat itu pun kian ramai pengunjung. Hal itu menuai berkah tersendiri bagi para pedagang. Nuruda, laki-laki 30 tahunan yang merupakan pendatang asal Bone-Sulawesi Selatan itu semakin dihormati dan diterima oleh warga setempat.

Setelah menambatkan hati untuk bermukim di Lombok, Nuruda Fahbrani, alumni sebuah pesantren di Jawa Timur yang melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik universitas di Jakarta itu semakin aktif meneliti dan menulis. Mengapa Lombok? Sebuah lukisan karya Husin Nanang, pelukis asal Lombok menarik perhatian Nuruda. Keinginan mencari pelukis itulah menjadi salah satu faktor yang menarik Nuruda ke Lombok. Selain faktor lainnya, yakni mencari ketenangan pasca kegagalan jalinan cintanya dengan Vandessa, seorang perempuan berdarah Sunda-Aljazair yang sangat menjunjung tinggi ihwal kesetaraan gender.

Kekecewaan terhadap LSM tempatnya bekerja mendorongnya keluar dari lembaga korporasi raksasa itu lalu mendorongnya hijrah ke Lombok. Perhatian Nuruda fokus pada pelbagai masalah di antaranya gencarnya eksplorasi migas, gemerlap kehidupan malam Lombok, gesekan-gesekan kecil antarpemuda suku, dan beragam persoalan lainnya. Hal itulah yang menumbuhkan keinginan Nuruda untuk melakukan pembangunan yang berorientasi kemanusiaan di Lombok.

Hingga pada suatu kesempatan, saat Nuruda menghadiri acara amal yang dikemas melalui pelelangan lukisan. Sebuah lukisan bertajuk Medulla Sinculasis berhasil menarik perhatiannya. Lukisan itu benar-benar istimewa. Sebuah karya figuratif, seorang laki-laki bertubuh bongkok yang sedang menyeringai, dengan penis yang menjuntai. Karya yang indah dan cukup menggetarkan.

Karya figuratif itu seolah berbicara banyak kepada Nuruda. Seorang lelaki bongkok sedang tersenyum dengan penis yang menjuntai. Lelaki adalah simbol keperkasaan, keangkuhan, penguasaan. Tetapi bagaimana jika lelaki itu ternyata lahir dalam keadaan cacat atau bongkok? Meskipun kemaluannya sebesar penis kuda? Jangan-jangan, seperti itulah gambaran peradaban kita? (Hal. 32)

Hanya sebuah harapan, sekecil apapun itu, menjadi sebuah pelita mungil yang menyalakan kembali semangat hidup Nuruda. Ia bertekad ingin mengubah dan menata kembali peradaban Lombok. Nuruda mengawalinya dengan membenarkan yang ada di sekitarnya terlebih dahulu, yakni Ampenan. Ia mulai menyebarkan virus kebajikan pada sekelilingnya yang sudah digerogoti penyakit apatisme akut. Sebagai pemuda yang sedang bersemangat mengibarkan bendera pergerakan, Nuruda akhirnya memilih dunia seni sebagai metode perjuangannya.

PaoxIben, penulis yang merupakan seniman teater juga aktif di berbagai komunitas ini mempersembahkan buku ini sebagai hasil dari pergulatannya melihat persoalan-persoalan umum masyarakat Lombok, khususnya di Kota Mataram dan Ampenan. Sebenarnya banyak hal yang ingin disampaikan penulis dalam buku ini. Terlepas dari kisah Nuruda, di sana penulis merefleksikan perspektifnya terhadap wacana dari pelbagai aspek dengan gaya essais. Buku ini hadir sebagai karya sastra yang sarat kritik sosial, PaoxIben mencoba membedah pelbagai sengkarut persoalan masyarakat secara lebih terbuka meski pilihan diksinya terkesan sarkas dan vulgar.

Namun yang tidak dinyana, Paox mampu menghadirkan penggalan-penggalan kisah kompleks tokoh-tokoh di dalamnya yang ternyata saling berkait. Tampak kelihaian Paox menciptakan kejutan-kejutan dalam novel ini. Pilihan penulisan kisah fiksi cukup kuat memudahkan pembaca mencerna kontens tulisan. Awalnya mungkin pembaca akan dibuat kelimpungan membaca dari bab ke-bab lainnya, namun pada akhirnya pembaca tidak akan kecewa karena penulis lihai memaparkan bagian demi bagian dengan gaya dan pilihan diksi yang segar.

Membaca buku ini seolah membaca sudut-sudut Lombok dari perspektif yang berbeda. Jika kita biasa disuguhkan informasi akan keindahan sebuah pulau bernama Lombok. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menengok kembali sisi lain Lombok dan merenungkan beragam persoalan di dalamnya.
Satu hal yang pasti, seniman mampu memandang dengan kacamata yang berbeda lalu menyuarakan dengan caranya yang kreatif. Melalui kisah para tokoh seperti Nuruda, Tegar, Surti dan lainnya itulah cara PaoxIben menyuguhkan nilai-nilai kemanusiaan kepada pembaca. Dan PaoxIben berhasil mengemas nilai-nilai tersebut dengan sangat menarik. Hadirnya buku ini, salah satu cara Paox menyapa manusia dengan lebih manusiawi.

*Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia 2014


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Retrospeksi Peradaban Lombok "

Posting Komentar