Sibuk Untuk Hidup Atau Sibuk Untuk Mati



Oleh : Siti Zummaroh

Judul : The Shawshank Redemption
Sutradara : Frank Darabont
Durasi : 142 menit
Rilis : 23 September 1994 (terbatas), 14 Oktober 1994 (Amerika Utara)
Pemain : Tim Robbins, Morgan Freeman, Bob Gunton, William Sadler, Clancy Brown, Gil Bellows, James Whitemore, dan lain-lain.

Remember Red, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies - Dialog Andy Dufresne (Tim Robbins) kepada sahabatnya Ellis Boyd “Red” Redding (Morgan Freeman).
Hanya badan dan raganya yang terpenjara, tidak dengan jiwa dan pikirannya. Satu-satunya narapidana yang selalu memiliki harapan dan tidak akan hilang karena sebuah penjara di Shawshank. Begitulah kiranya penggambaran Andy Dufresne ketika berada di Shawshank State Penitentiary.

Tahun 1947, seorang wakil presiden sebuah bank besar di Portland bernama  Andy Dufresne (Tim Robbins) dituduh membunuh istri dan kekasih istrinya. Walaupun Andy menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan pembunuhan itu, namun berdasarkan bukti-bukti yang ada, Andy dihukum penjara dua kali seumur hidup di Shawshank

Sistem penjara di Shawshank memperlakukan narapidana baru dengan berbaris telanjang seperti hari pertama seseorang lahir, kulit terbakar, dan setengah buta akibat pembersihan kutu. Narapidana masuk ke dalam sel-sel jeruji maka dalam sekejap kehidupan yang dulu, hilang ketika mengetahui hal tersebut nyata. Awal berada di Shawshank, Andy berteman baik dengan seorang narapidana Irlandia bernama Ellis Boyd “Red” Redding (Morgan Freeman). Seorang yang mahir menyelundupkan barang ke dalam penjara Shawshank. Termasuk menyelundupkan sebuah palu dengan panjang sekitar 6 atau 7 inci dan poster Rita Hayworth, Marilyn Monroe, dan Raquel Welch yang membantu melancarkan aksi Dufresne di Shawshank.

Tokoh Andy Dufresne dalam film ini menyadarkan kita bahwa seseorang dalam membagi kebaikan, kemampuan, cara berpikir, dan kecerdasan tidak memandang tempat di mana ia berada. Terbukti dalam adegan film ini, ketika Dufresne membantu kekhawatiran Hadley (Clancy Brown) tentang pajak warisannya. Juga bagaimana Andy membantu narapidana tua bernama Brooks Hatlen (James Whitmore), yang mengelola perpustakaan penjara menjadi perpustakaan penjara terbaik di New England usai di pegang Andy. Atau bagaimana Andy mengajarkan baca tulis seorang narapidana muda rock n roll, Tommy Williams (Gill Bellows) hingga lulus ujian General Educational Development (G.E.D.) dan  bagaimana Andy memanfaatkan eksploitasi yang dilakukan oleh Warden Norton (Bob Gunton) yang menyuruhnya melakukan money laundry atas uang Norton dengan nama samaran “Randall Stephens”.

Film yang diadaptasi dari novella karya Stephen King, Rita Hayworth and Shawshank Redemption, memiliki kejanggalan dalam adegan ketika Andy dapat melubangi pipa saluran kotoran yang terbuat dari besi saat hendak melarikan diri dari penjara Shawshank. Tentu saja bila dinalar, hal tersebut sangat tidak mungkin terjadi, yang mana seseorang dapat melobangi pipa terbuat dari besi hanya dengan beberapa kali pukulan sebongkah batu.

Tetapi, film ini berhasil mengecoh penonton dalam adegan keterpurukan Andy setelah keluar dari ruang isolasi tanpa cahaya selama dua bulan. Penonton bisa terkecoh untuk berpikir bahwa Andy akan bunuh diri seperti yang dilakukan Brooks Hatlen (James Whitemore), seorang narapidana tua dan juga pustakawan di penjara tersebut.

Hal yang menakjubkan kembali Andy lakukan dalam adegan pemutaran piringan hitam Duettino - Sull'aria dari opera "Le nozze di Figaro (The Marriage of Figaro)" karya Mozzart. Andy memutarnya dengan menggunakan pengeras suara yang bisa didengar oleh seluruh penghuni penjara, hingga membuat tembok penjara Shawshank pecah. Agaknya untuk kenangan singkat narapidana di Shawshank merasakan kebebasan.

Film garapan Frank Darabont ini dapat menginspirasi penonton dan berpikir bagaimana seseorang yang dikurung di dalam penjara dapat mengendalikan masa dengan kecerdasan dan kemahiran di bidangnya, sehingga dapat mengubah anggapan seseorang mengenai penjara dengan gambaran penderitaan, kekerasan, dan penindasan yang dapat dilakukan antar narapidana. Menjadi sebuah anggapan bahwa di penjara sekalipun, seseorang dapat leluasa mengembangkan pikiran dan harapannya di luar penjara dengan selalu berbuat baik, meskipun di tempat yang tidak baik sekalipun.

Penokohan dan latar yang dipilih begitu apik dan sesuai. Sosok Andy yang cerdas, namun sedikit bicara sangat cocok diperankan oleh Tim Robbin. Terlebih dengan sosok Red, sahabat Andy yang asik dan pengertian dilakoni dengan baik oleh seorang Morgan Freeman. Narasi yang dibuat oleh Morgan Freeman di sepanjang film ini membuat saya semakin terhanyut dalam kisah Andy dan kelamnya dinding penjara Shawshank. Begitu banyak cerita yang tersirat dan sarat makna di setiap adegan dan dialognya yang sederhana.

Dalam film yang menduduki peringkat pertama IMDB ini, setidaknya dapat membuka mata penonton Indonesia untuk membandingkan sistem penjara di Shawshank dengan realitas penjara di Indonesia yang sangat berbeda dari segi kedisiplinan dan efek jera yang ditimbulkan bagi para narapidana.

Berbeda dengan narapidana di Shawshank setelah pembebasan bersyarat, narapidana akan terjun dan mengabdi kepada masyarakat, tetapi di Indonesia, narapidana setelah bebas dari kurungan penjara, mereka seakan menantang dan muncul rasa balas dendam kepada masyarakat, tanpa ada rasa jera sedikit pun.

Film ini juga memberikan inspirasi pada seseorang untuk mempunyai harapan dan bertahan hidup di dalam kondisi yang sulit. Sekalipun harapan tersebut diremehkan oleh orang lain yang mendengarnya.  Andy Dufresne dalam dialognya, “Get busy living, or get busy dying.

            *Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sibuk Untuk Hidup Atau Sibuk Untuk Mati"

Posting Komentar