Pasar Krempyeng, Sumber Berekonomi Warga Sekaran



Oleh : Lala Nilawanti
 

Lampu-lampu masih menyala menerangi jalanan depan Pasar Krempyeng yang mulai menunjukkan kesibukannya (24/3). Belum banyak pedagang yang datang. Jalanan masih terlihat sepi. Lalu, terlihat para pedagang mulai muncul tergopoh-gopoh membawa barang dagangannya dari sudut-sudut gang di sekitar pasar. Dagangan yang dibawanya dalam keranjang bambu berukuran sedang itu berisi buah-buahan seperti pisang, untingan-untingansayur mayur, gorengan, dan lauk pauk.
Sebagian pedagang sudah bersiap sedari pukul 05.00 WIB, seperti Ibu Khomsah yang menghabiskan waktu selepas subuhnya di pasar Krempyeng. Wadah-wadah makanan berisi lauk pauk dan sayuran tertata rapi di depannya, siap diburu para pembeli untuk sarapan. Warga asli Sekaran ini benar-benar memaknai berjualan di Pasar Krempyeng sebagai kegiatan untuk mengobati masa menganggur di usia tuanya. Matahari mulai bersinar, para pedagang berangsur-angsur memenuhi lapak-lapak pasar.
Pasar Krempyeng merupakan pasar tradisional di daerah Sekaran, Gunungpati, Semarang tepatnya di sekitar kampus Unnes. Pasar ini buka pagi buta -biasanya selepas subuh- hingga siang, tengah hari. Salah satu penjelasan pedagang di pasar yakni Ibu Rofikoh (60) mengatakan bahwa nama “krempyeng” berarti “sekali habis” yang mengacu pada cepat terjualnya produk. Bahkan sebelum matahari berada di atas ubun-ubun, pasar ini sudah sepi penjual dan pembeli.
            Pasar Krempyeng telah menjadi pusat kegiatan ekonomi warga Sekaran yang tidak luput dari perhatian Lurah setempat. Jika Pasar Krempyeng ini sedang ramai, parkiran menjadi sumber kemacetan jalan. Kemudian, karang taruna diberi tanggung jawab oleh Lurah untuk menertibkan parkiran pasar. Kini, tempat parkir yang biasanya tepat di depan pasar dipindahkan ke Lapangan Banaran.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pasar Krempyeng, Sumber Berekonomi Warga Sekaran"

Posting Komentar