Tuan Guru yang Mempertahankan Kompas





Judul                           : Yuk, Simak Pak Jakob Berujar
Penulis                         : Ninok Leksono
Penerbit                       : Kompas Penerbit Buku
Tahun                          : 2016
Tebal Halaman            : 190
ISBN                           : 978-602-412-135-3

Menjadi guru merupakan tugas mulia. Ada pepatah mengatakan, “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Tapi bagi sosok Jakob, ia bukan hanya sekadar guru di dalam kelas, tapi ia telah menjelma menjadi guru bangsa, khususnya dalam dunia pers.

Cita-cita awal Jakob adalah menjadi guru dan ini sempat ia wujudkan dengan menjadi guru SMP Mardiyuwana Cipanas (1952) dan SMP Van Lith Jakarta. Ketika Jakob ditanya oleh Pastor JW Oudejans, yang  juga Pemimpin Umum majalah mingguan Penabur,Jakob menyatakan bahwa guru merupakan cita-citanya. Kala itu, Jakob menjadi sekretaris redaksi majalah tersebut. Menurut Jakob yang juga putra seorang guru, menjadi guru bisa menaikkan martabat. (Halaman xxvi)

Tetapi seperti dikisahkan dalam buku Syukur Tiada Akhir (St Sularto, 2015), Pastor Oudejans OFM mengatakan, “Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak”. Jakob yang juga sudah senang menulis sejarah pun akhirnya mengikuti nasihat itu. Ia menganggap Pastor Oudejans adalah orang yang telah mengubah jalan hidupnya. Jika tidak mengikuti saran itu, mungkin Jakob akan dipanggil Tuan Guru. (Hlm. xxvi-xxvii)

Sebagai seorang yang pernah mencicipi pengalaman di berbagai bidang, bermula-mula berkarir sebagai guru, kemudian diperintahkan gurunya menjadi wartawan hingga mampu mendirikan koran Kompas, kemudian juga menjadi pebisnis yang pernah mendapatkan penghargaan The Indonesian Entrepreneur of the Year 2005 dan juga World Entrepeneur of The Year Academy pada tahun 2006, tentu saja Jakob memiliki khasanah yang khas dan patut ditiru. Ninok Leksono berhasil menuliskan ujaran-ujaran yang biasa disampaikan oleh Jakob Oetama dalam buku ini. Bila Anda tidak punya kesempatan untuk  mendengarkan ujaran-ujaran Jakob secara langsung, bacalah buku ini! Khasanah Jakob terkumpul disini.

Buku ini terbagi menjadi empat bab. Bab pertama membahas tentang Media dan Pers, yang merupakan jiwa dan kehidupan inti dari Jakob. Kemudian, pada bab kedua membahas tentang politik, dilanjutkan etos kerja pada bab ketiga. Bab terakhir membahas  falsafah hidup. Dari setiap babnya, terdapat 20 sub judul.

Ada cerita menarik di buku ini. Ketika rezim kepemimpinan Presiden Soeharto, dimana waktu itu kebebasan pers sangat terbatas, pada tanggal 21 Januari 1978 Kompasdilarang terbit. Ketika itu, hanya ada dua pilihan. Yang pertama tetap membiarkan koran Kompas berhenti begitu saja. Yang kedua, koran Kompasboleh terbit asalkan mau menerima syarat yang diajukan pemerintah. Pemerintah bersedia menerbitkan media yang ditutup asalkan bersedia meminta maaf dan menandatangani kesepakatan terdiri dari empat butir utama, yakni tidak mengkritik keluarga utama, tidak mengungkit dwi fungsi ABRI, tidak menulis tentang SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan), dan tidak menulis hal yang memperuncing konflik.  (Hlm. 15-16)

Ketika Kompasdilarang terbit. Ada dua perbedaan pendapat yang mencolok antara 2 pendiri besar Kompas, yaitu PK Ojong dengan Jakob Oetama. Ketika itu, PK Ojong tidak menerima persyaratan yang diberikan oleh pemerintah. Ia menilai dengan kebijakan tersebut dapat menempatkan pengelola surat kabar dalam posisi lemah dan penguasa lebih kuat lagi. Jika Kompas tidak menerima syarat tersebut, konsekuensinya Kompas tidak bisa terbit. Tetapi Pak Jakob berargumen bahwa perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, diantaranya lewat media massa. (Hlm. 15)
Disinilah terlihat bagaimana perbedaan sikap dan pandangan kedua pendiri Kompas. Pak Ojong keras dan dengan itu getas-mudah patah. Namun toh kemudian bisa diyakinkan Pak Jakob untuk menerima tawaran penguasa. Yang ikut dipikirkan selain sarana perjuangan adalah nasib 2.500 karyawan yang ada di lingkungan Kompas waktu itu.
Keputusan Pak Jakob menyetujui persyaratan terbit kembali Kompaspada 5 Februari 1978 di satu sisi mungkin meninggalkan rasa kalah atau tunduk, namun pada sisi lain itu berkah bagi kelanjutan Kompas yang pada tahun 2015 mencapai usia 50 tahun. (Hlm. 15)
Membaca buku Ninok Leksono ini seperti halnya hidup dalam dunia Jakob. Buku ini mampu mentransfer falsafah hidup dan kepribadian Jakob kepada pembaca. Ditambah kelihaian Ninok Leksono dalam menggambarkan disetiap ujaran, membuat makna yang ingin disampaikan tidak berkurang. Selamat menjalani umur ke-85 tahun Jakob Oetama. [A. M. Adzkiya]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tuan Guru yang Mempertahankan Kompas"

Posting Komentar