Optimalisasi Kewirausahaan Vs Pencitraan



“Simpang tujuh merupakan tempat yang strategis bagi civitas Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan warga Sekaran. Setelah pemasangan videotrone di dekat Embung ada pula satu pemandangan baru yang menarik. Sebuah gedung baru yang didominasi warna abu-abu nampak berdiri.”

Proyek pembangunan yang dilakukan oleh Unnes bekerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB) selama kurang lebih lima tahun dan berakhir dengan dibangunnya Gedung Kewirausahaan. “Kami selalu berusaha untuk memfasilitasi mahasiswa dengan sarana prasarana yang menunjang akademik. Tidak ada gedung di Unnes yang dibangun selain untuk menunjang kegiatan akademik termasuk gedung kewirausahaan yang baru saja selesai dibangun,” ujar Martono, Wakil Rektor Bidang Umum dan Administrasi.

Menurut Heni Murtini, Kepala Badan Pengembang Bisnis Unnes mengatakan bahwa nantinya gedung akan diisi dengan Pusat Layanan Kesehatan (Puslakes) dan Bank Tabungan Negara (BTN). Selain itu, ada juga kafe mini yang digunakan untuk jamuan tamu apabila ada tamu penting yang berkunjung ke Unnes. Gedung ini juga dilengkapi dharmasiswa (penginapan) yang akan diletakan di lantai empat serta pusat kegiatan olahraga (gym).

Tahap peresmian gedung kewirausahaan yang sudah berdiri baru mencapai brainstorming. Sistem pengalokasian gedung menggunakan sistem Kerja Sama Operasional (KSO). Hal tersebut disebabkan oleh ketidakcukupan dana yang ada. Pihak Pengembang Bisnis sedang mencari vendor-vendor yang akan dipilih oleh pihak Unit Layanan Pengadaan (ULP). Meskipun demikian, pihak pengembang bisnis membutuhkan saran dari mahasiswa mengenai sistem pembagian gedung.

Sihabudin, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro berpendapat bahwa jika hendak menyewa Gedung Wirausaha akan membutuhkan dana cukup besar karena lokasi gedung yang strategis serta bangunan gedung yang mewah. Sehingga, dapat diprediksi butuh modal yang besar untuk mendirikan usaha di dalamnya. Menanggapi pendapat tersebut, Badan Pengembang Bisnis Unnes memberikan kesempatan bagi mereka yang minim modal dengan menitipkan produk saja. Fasilitas tersebut supaya mahasiswa termotivasi untuk berwirausaha. Menurut Heni, harga sewa untuk membuka usaha di gedung tersebut yaitu Rp. 350.000,00/meter per tahun.

Terkait pendapatan dari didirikannya gedung, Badan Pengembang Bisnis Unnes tidak berani menargetkan pendapatan tetapi lebih mengutamakan kelancaran operasional yang akan dijadikan modal untuk mengembangkan bisnis lagi.

Mohamad Adib, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Unnes menerima positif adanya pembangunan Gedung Kewirausahaan. “Kami sendiri mengapresiasi pembangunan gedung kewirausahaan itu. Namun, kita harus tetap mengawal langkah selanjutnya yang dilakukan pihak universitas,” tuturnya. “Setiap hal yang dilakukan pasti ada dampak positif dan negatif. Jika memang dampak positifnya lebih besar, ya mengapa tidak?” tambahnya. [Siti Zum, Uswatun]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Optimalisasi Kewirausahaan Vs Pencitraan"

Posting Komentar