Mengendalikan Obsesi Diri



Oleh : Khansa Amira R.

Judul Film : The Prestige
Tahun : 2006
Sutradara : Christopher Nolan

“… but I have followed them too long (obsession), I am their slave. And one day, they will choose to destroy me, ungkap Nikola Tesla, dalam film The Prestige yang diperankan oleh David Bowie. 

Setiap manusia tentunya memiliki obsesi, hasrat juga nafsu sekalipun itu persaingan seorang magician(pesulap) seperti obsesi yang dirasakan oleh Alfred Borden (Christian Bale) dan Robert Angier (Hugh Jackman). Alfred dan Angier adalah magician muda dan berbakat yang kala itu, masih menjadi asisten seorang pesulap yang diinsinyuri oleh John Cutter (Michael Caine). Konflik mulai ditunjukkan pada awal film, ketika istri Angier mengalami kecelakaan saat menampilkan trik sulap dan Borden menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Dari kematian istri Angier, ia menyimpan dendam pada Borden. Dan keduanya bersaing menjadi magicianterbaik di kotanya.
        Christopher Nolan sebagai sutradara film ini dengan apik membuat alur cerita maju-mundur dan diisi dengan kejutan-kejutan yang membuat penonton gagal paham. Plot twist yang membuat penonton geleng-geleng kepala, terheran dengan kejutan pada tiap scene-nya.
        Plot twist yang disajikan begitu apik mengecohkan penonton, namun ada beberapa cacat logika pada film ini. Ketika scene yang menunjukan alat sains tidak dijelaskan dengan detail dan sutradara dinilai tidak mampu membangun logika penonton untuk mempercayai science fiction pada adegan tersebut, walau film ini bukan ber-genre science fiction (tentu hal itu menjadi alasan dari kekurangan film ini). Selebihnya saya kira, Christopher Nolan berhasil membuat saya ikut berfikir, menebak-nebak, dan merasa kesal atau senang terbawa suasana film.
        The Prestige dengan jelas menggambarkan dua orang pemuda dengan semangat membara dan obsesi yang masih hangat, dua orang pemuda ini akan menguasai obsesinya ataukah dikuasai oleh obsesinya? Itu pertanyaannya.
Sama seperti yang dikatakan Cutter bahwa obsesi adalah permainan anak muda.Obsession is a young man game. Sialnya, obsesi memiliki kuasa yang besar pada anak muda, mereka dikuasai dan dibunuh oleh obsesinya. Usaha untuk menjadi lebih baik tentu saja bagus, selanjutnya tinggal bagaimana seseorang yang memiliki obsesi tersebut mengendalikan obsesinya. Karena menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik adalah dua hal yang berbeda. Merasa cukup dan puas pada diri sendiri membutuhkan kemampuan khusus. Serakah tentu saja menjadi bukti kuat bahwa kau, kita, dan manusia yang memiliki obsesi ini telah kalah oleh obsesi itu sendiri.
        Jadi, bagaimana? Akankah kau terbunuh oleh obsesimu? Atau kau berhasil menguasainya? Kendalikan ia baik-baik.

*Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2016


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengendalikan Obsesi Diri"

Posting Komentar