Sang Gubernur Ingin Mengukir Sejarah


Sang Gubernus bersama istri. [Doc.BP2M/Jazidi]

Betapa indah sebuah lakon yang dipentaskan mampu menyampaikan pesan kepada penonton.

Lakon berjudul Sang Gubernur yang dipentaskan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia layak memperoleh apresiasi. Mereka yang terlibat di dalamnya bersama-sama memiliki pesan yang disisipkan melalui pementasan drama. Terlebih tema cerita yang diangkat bak potret polemik yang sedang terjadi di kehidupan masyarakat. Shima Cinta, sang sutradara, mengatakan, pertunjukan ini memiliki relevansi dengan isu yang tengah berkembang saat ini. Juga memanfaatkan momentum menjelang Pemilihan Kepala Daerah, mengingat bahwa jalan cerita yang mengisahkan sikap sang pemimpin menghadapi rakyat beserta polemik di dalamnya.

Pementasan naskah drama yang diadaptasi dari judul naskah milik Agustan T. Syam berjudul Gubernur Nyentrik mampu mengocok perut penonton, namun tak lepas dari benang merah yang ingin disampaikan, tentang kegelisahan Sang Gubernur yang tak ingin dilupakan oleh sejarah, oleh rakyatnya. “Rakyat kita adalah orang-orang pelupa. Jasa-jasa para pendahulu saya yang lebih besar saja dilupakan, apalagi saya,” keluh Gubernur pada sang istri dan ajudan kepercayaannya.

Dari kegelisahannya itulah terbesit oleh Sang Gubernur untuk memberikan sesuatu yang spektakuler kepada rakyatnya. Sesuatu yang kelak akan dicatat oleh para rakyatnya yang dianggap pelupa itu dan tentu saja dicatat oleh sejarah. Maka dari itu, ia ingin menyepakati rencana salah satu investor Jepang yang berencana membangun pabrik semen di daerah kekuasaannya. Menurut Sang Gubernur, didirikannya pabrik besar di wilayahnya akan turut menunjang perekonomian rakyatnya. Namun, rencana Sang Gubernur sontak memperoleh reaksi keras dari rakyat.

Suara gaduh para demonstran di luar gedung tempat kerja Sang Gubernur membangunkan lamunan Sang Gubernur dari kegelisahannya memikirkan rakyat dan setumpuk jadwal rapat yang padat. Enam orang yang terdiri atas tiga warga dan tiga mahasiswa menyampakaikan sikap ketidaksetujuannya terhadap rencana Gubernur. Mereka khawatir pabrik super besar yang akan didirikan menggunakan uang rakyat itu akan mangkrak sia-sia. Akibatnya, lagi-lagi rakyatlah yang akan menjadi korban.

Jeritan para demonstran itu nyatanya tak menyurutkan niat Sang Gubernur untuk tetap merealisasi proyek besar di wilayahnya itu. Alih-alih Sang Gubernur meminta arsitek dari Cina untuk membuat rancangan proyeknya. “Mengapa harus dari Cina, tuan Gubernur? Arsitek di disini juga bisa!” ketus salah seorang warga saat bernegosiasi dengan Sang Gubernur.

Ketegangan mencapai puncak tatkala seorang arsitek dari Cina bersikukuh membujuk Gubernur untuk melanggengkan proyek besar untuk direalisasikan. Hal itu semakin menyulutkan emosi para demonstran yang diwakili buruh dan mahasiswa saat itu.

Tirto Aji Utomo, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) yang memerankan tokoh gubernur mengaku mantap memerankan tokoh Sang Gubenur. “Saya merasa tertantang memerankan tokoh gubenur. Tantangan itulah yang membuat saya terus belajar untuk menggali karakter sosok gubernur sehingga mampu mementaskan dengan apik.”

Dia merasa kesulitan dalam menjiwa karakter, menguasai emosi, cara berjalan, dan cara berbicara tokoh gubernur. “Karena peran memerankan karakter gubernur cukup sulit. Saya harus bersikap tegang dan serius terus. Apalagi harus memerankan karakter yang bukan kita.” Sebab menurutnya, sosok gubernur di pemikiran setiap orang tentu berbeda-beda. Bahkan mungkin saja ada di antara penonton yang menyimpulkan karakter gubernur seperti sosok perpaduan beberapa tokoh politik di negeri ini.

“Karakter gubernur sangatlah tegas, sedikit arogan, namun sebenarnya ia punya sisi lain yakni peduli terhadap rakyatnya. Kepedulian itu disalah tangkap oleh rakyatnya, yang dianggap sebagai pencitraan,” terang Tirto usai mementaskan drama yang berlangsung di Gedung B6 FBS Unnes, Sabtu 17 Desember 2016.

Lanjut Tirto kepada tim bp2munnes.org, jika direlevansikan dengan kehidupan, pasti ada pihak-pihak tersembunyi di balik kebijakan sang pemimpin dalam mengambil keputusan. Mereka butuh pertimbangan dari berbagai pihak dalam mengambil keputusan yang lazim memperoleh pro dan kontra dari masyarakat.

Keseluruhan pertunjukan  dikemas dalam aksi panggung yang kaya eksplorasi. Shima, sang sutradara mengeksplor naskah yang sebenarnya bernuansa serius dengan menambahi bumbu humor di dalamnya melalui dialog dan khusunya karakter ajudan kepercayaan Gubernur. Sang ajudan yang kocak dan nyleneh seolah menjadi nyawa yang membawa suasana penonton dari rentetan dialog-dialog dan adegan yang rentan menjenuhkan bagi penonton.

Di panggung kita melihat adegan-adegan yang merupakan cerminan dari realitas dan menyimpan kritik di dalamnya. Beberapa di antaranya adegan tamu istri gubernur yang meminta proyek kepada istri gubernur tatkala mendengar bahwa gubernur tengah merencanakan proyek besar, dialog arsitek yang menyarankan gubernur tampil apa adanya tanpa dibuat-buat di depan rakyat. “Jangan membohongi diri sendiri, tuan. Tuan Gubernur sebenarnya kaya raya. Tuan punya tambang emas, kebun kelapa sawit, mobil mewah. Dan semua itu hanya tuan pendam dalam hati tuan!” ceramah Sang Arsitek pada Sang Gubernur.

Juga adegan lainnya yang penuh kritik yang bila dipoles lagi, pesan yang disisipkan di dalamnya akan tersampaikan kepada penonton yang mengapresiasi drama tersebut. Proyek penciptaan pertunjukan ini berupaya membaca ihwal ingar bingar ketegangan politik yang digambarkan dengan kompleks lewat kisah Sang Gubernur. Kisah personal dan interaksi di antara keseluruhan tokoh mengupas masalah yang dikaitkan dengan isu besar yang tengah menyeruak saat ini. [Yunita Puspitasari]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sang Gubernur Ingin Mengukir Sejarah"

Posting Komentar