Menemukan Tuhan dalam Kegalauan



Judul               : Yang Galau, Yang Meracau
Penulis             : Fahd Djibran
Penerbit           : Kurniaesa Publishing
Kota Terbit      : Jakarta
Cetakan ke      : III, September 2011

Perjalanan ini memang berat. Waktu terus berjalan, kita terengah-engah nyaris kehilangan suara. Terkadang merasa sakit, mengusap luka, terkapar, sendiri… Tetapi perjalanan harus diteruskan.

Siapa bilang galau itu dilarang? Galau itu dibolehkan. Kadang-kadang bergalau itu perlu! Hidup manusia tidak plek njiplek seperti kisah sinetron, novel, film, bahkan ftv. Meskipun tidak dipungkiri bahwa karya sastra tersebut merupakan cerminan langsung dari realitas sosial. Dalam kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari masalah. Masalah memang bagian dari bumbu kehidupan kita. Bergantung bagaimana manusia yang menyikapi masalah itu, sebab sebagaimana yang kita tahu, Tuhan tak akan memberikan beban kepada kita melebihi kesanggupan kita.

Jika kita memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, betapa banyak yang penuh masalah, tidak bahagia dan merasa tidak beruntung. Di kantor-kantor, kita melihat orang-orang yang mengeluhkan pekerjaan dan upah kerjanya. Di mal-mal, kita akan melihat orang-orang berjalanan entah kemana dengan tatapan kosong. Di kafe-kafe, kita melihat orang-orang yang murung atau bahkan tertawa sembari terus menipu dirinya sendiri­­. Adakah seseorang yang tak punya masalah dan terus-menerus berbahagia? Rasanya, tidak.

Masalah-masalah hidup itulah yang seringkali memicu kegalauan. Sebab, kegalauan lebih sering diakibatkan oleh sikap tidak jujur, lebih tepatnya tidak jujur pada diri sendiri. Itulah sebabnya buku Yang Galau Yang Meracau hadir untuk mengajak kita berbicara pada diri sendiri secara lebih bebas dan lebih jujur.  Buku karya Fahd Djibran ini merangkum tema-tema yang barangkali menjadi kegalauan kita selama ini. Ada tiga bab tema yang dikupas dalam buku ini, di antaranya Setan, Cinta, dan Tuhan. Dari ketiga tema itu lahir kisah-kisah ciamik dan sederhana hasil pemenungan Fahd Djibran, penulis yang menaruh minat besar pada filsafat dan spiritualitas ini. Menariknya, Fahd Djibran menulis buku itu lengkap dengan sejumlah lirik yang bersesuaian dengan tema yang dibicarakan. Tidak hanya lirik lagu disana, ada beberapa sajak yang turut melengkapi halaman-halaman buku ini. Namun sayangnya, karena saking banyaknya lirik lagu yang memang sebagian besar berbahasa Inggris barangkali menimbulkan kejenuhan bagi pembacanya, termasuk bagi saya sendiri.

Fahd Djibran ingin berbagi pengalaman spiritualitasnya melacak identitas Tuhan dan merenungi hal-hal yang sering disepelekan. Tapi yang membedakan buku ini dengan buku lainnya adalah cara bertutur yang sederhana dan jauh dari kesan menggurui. Salah satu contohnya mari kita tengok bab mengenai Tuhan. Di sana Fahd Djibran melemparkan suatu pertanyaan, “Siapa Tuhan itu sebenarnya? Atau apa?” Tentu saja pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan pertanyaan-pertanyaan baru dalam diskusi filsafat. Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk melacak dan mendekati Tuhan. Di situlah Fahd Djibran mencoba membantu menjelaskan tentang Tuhan secara masuk akal berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Dia memulai penjelasannya terkait usahanya memahami dan mendekati Tuhan dengan bermodal sejumlah buku yang pernah dia baca. Berbicara melalui lisan buku-buku semacam ini atau kerap disebut “musyawarah buku” dipelajarinya dari seorang ilmuwan Muslim dari Princeton University, Khaled Abou el-Fadl. (Hal.166)
Sejumlah buku yang menjadi referensinya, beberapa di antaranya Gianni Fatimo, John. D. Caputo, dan Jeffrey W. Robins (After the Dead of God, 2007), Steven Weinberg (The First Three Minutes: A Modern View OF The Origin of The Universe, 1977), Sam Harris (Letter End to Faith, 2004), dan Christopher Hitchens (God is Not Great: How Religion Poisons Everything, 2007). Selain dari buku-buku tersebut, Fahd juga mengamati diskusi-diskusi yang mendebatkan tentang Tuhan guna melengkapi pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman untuk menyelami samudera-Nya. Dari caranya, secara tersirat sesungguhnya Fahd Djibran ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa melacak Tuhan tidak melulu berakhir di tempat-tempat ibadah. Tuhan ada dimana saja. Bukankah Tuhan sendiri telah berfirman bahwa Dia lebih dekat dari urat nadi hamba-Nya? Lantas, masihkah kita mempertanyakan ada atau tidaknya Tuhan dan terus memaksa akal untuk menalar adanya Tuhan.
Logikanya sebenarnya sederhana, ketika kita memikirkan “ada atau tiada”-nya Tuhan atau “masuk akal atau tidak”nya Tuhan, sebetulnya kita sedang memikirkan Tuhan sebagai suatu keutuhan. Singkatnya, Tuhan setidaknya “ada” dalam pikiran kita ketika kita memikirkan-Nya. (Hal.183) Kalau boleh mengutip sebuah hadis qudsi, “Aku seperti sangkaan hamba-Ku. Jika ia mencari dan mengingatku, Aku bersamanya.” Jadi, sebetulnya semua ini bukan tentang “ada atau tidak”nya Tuhan, tetapi tentang bersama atau tidaknya kita bersama Tuhan.

Sebagaimana kita tahu, hidup memang tidak mudah. Tetapi jauh akan lebih sulit jika kita terus-menerus menganggapnya tidak mudah. Barangkali setiap manusia mendambakan kehidupan ideal, kehidupan yang sempurna. Hidup dalam kebahagiaan, diliputi segala hal yang indah, mewah, nan agung. Padahal seorang sufi mengatakan, kesempurnaan adalah ketiadaan sekaligus keberadaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, hitam sekaligus putih. Seperti halnya Tuhan. Dia melampaui segalanya, itulah sebabnya mengapa Dia Maha Sempurna. Kalau manusia terus-menerus berbuat salah, Tuhan selalu dan terus menerus menjadi pemaaf yang penuh kasih. Itulah kesempurnaan.

Sekali lagi melalui buku ini Fahd Djibran ingin mengajak pembacanya untuk segera  bangun dan menyadari segala kesalahan yang pernah kita lakukan, serta berhenti mengulangi keputusan yang hanya akan membuat penyesalanan di masa mendatang. Tuhan selalu memiliki rencana-rencana terbaik bagi hamba-Nya. Kita memiliki peran masing-masing, maka mainkan peran kita sebaik mungkin lalu barkan Tuhan yang menilai dan menentukan.  


Yunita Puspitasari
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menemukan Tuhan dalam Kegalauan"

Posting Komentar