Memanusiakan Binatang



Begitulah kutipan novel Animal Farm karya George Orwell yang dikutip Eka Kurniawan dalam novelnya berjudul “O. Kutipan tersebut berdiri sendiri, tidak masuk ke dalam cerita.

Seekor monyet bernama O ingin menikah dengan Kaisar Dangdut. Menurutnya, Kaisar Dangdut merupakan jelmaan dari Entang Kosasih yang berjanji menikahi O pada bulan ke sepuluh. Itulah sebabnya O bergabung dengan sirkus topeng monyet. O percaya dengan belajar bertingkah laiknya manusia dalam sirkus topeng monyet, dia bisa berubah menjadi manusia. Seperti yang diceritakan oleh para monyet pendongeng tentang Armo Gundul yang berubah menjadi manusia pada zaman dahulu kala dan belakangan terjadi pada Entang Kosasih, kekasihnya.

Jika harus menyalahkan seseorang, lebih tepatnya seekor binatang, O akan menyalahkan monyet pendongeng yang mendongengkan kisah Armo Gundul. Seandainya Entang Kosasih tidak pernah mendengar kisah Armo Gundul tentu ia tidak akan pernah berpikir untuk menjadi manusia. Lebih dari itu, Entang Kosasih tidak perlu menghilang dan O tidak perlu terpisah dengan kekasihnya itu.

Namun apa dayadongeng itu sudah menjadi hikayat turun temurun para monyet-monyet di Rawa Kalong. Banyak monyet tolol yang percaya pada hal tersebut dan mencoba pergi dari Rawa Kalong untuk mengikuti jejak Armo Gundul. O percaya Entang Kosasih bukan monyet tolol yang ikut-ikutan mengikuti jejak Armo Gundul.  O tahu sifat kekasihnya yang memiliki pendirian teguh. Keteguhan itulah yang membuatnya jatuh hati pada Entang kosasih. Seperti yang dikatakan O, ”Ia seekor monyet yang percaya kepada isi kepalanya dan mau melakukannya. Ia membuktikan bisa pergi dari pohon gundul itu melewati punggung buaya. Meskipun apa yang diyakininya itu terbukti, jika di tengah jalan seekor buaya berbalik dan menghajar kami, aku tetap mencintainya. Sesederhana karena ia memiliki nyali untuk memiliki mimpi.”

Saat itulah perjuangan O dimulai. Entang Kosasih membunuh seorang polisi dengan tembakan sepucuk revolver. Polisi lainnya menembak Entang Kosasih. Selanjutnya, Entang Kosasih menghilang, menjadi manusia. Paling tidak begitulah yang dipercayai O. Ia mulai mencari cara agar bisa berjumpa lagi dengan kekasihnya.

Cerita tidak hanya berpusat pada perjuangan O untuk bertemu lagi dengan Entang Kosasih. Cerita menyebar dalam arti setiap karakter pendukung yang bersinggungan dengan O cenderung mendapatkan porsi penceritaan yang cukup besar. Bahkan seringkali kisah tokoh-tokoh lainnya yang ada dalam novel ini tidak terlalu berkaitan dengan cerita utamanya. Hal ini memberikan kesan bahwa novel ini seperti kumpulan cerpen yang diramu menjadi satu kesatuan.

Anjing! Monyet! Tikus! Celeng! Kampret! Godek! Lintah!

Manusia seringkali mencatut nama binatang sebagai umpatan, hinaan, atau sindiran untuk manusia lain. Hal ini karena manusia menganggap dirinya sebagai makhluk berderajat tertinggi dibandingkan makhluk lainnya. Bahkan konsep ini di dukung oleh salah satu agama. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan dil autan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al Isra’ : 70).

Disisi lain, konstruksi sosial manusia membuat beberapa binatang seakan menjadi makhluk terburuk. Contohnya, babi menjadi lambang kerakusan, sedangkan tikus dipandang binatang yang kotor dan pengganggu. Inilah yang menyebabkan makin besarnya kesenjangan antara manusia dan hewan. Dengan menganggap posisinya berada jauh diatas binatang, manusia tidak akan mau disamakan dengan binatang.

O seakan ingin mengurangi kesenjangan itu. Tidak masalah manusia menganggap dirinya lebih tinggi, terhormat, dan merasa lebih sempurna dibandingkan binatang. Akan tetapi, manusia patut menyadari bahwa sifat dan akal yang membedakan mereka dengan binatangKetika hewan diberi sifat dan akal untuk berpikir, binatang tak jauh berbeda dengan manusia.

Dalam novel O, binatang diberikan sedikit keleluasaan berpikir seperti manusia. Keleluasan berpikir sedikit saja sudah membuat binatang tak jauh berbeda dengan manusia. Binatang berkomunikasi, jatuh cinta, dan sebagainya laiknya manusia. Ketika binatang itu sudah semakin dekat dengan sifat manusia, penulis membunuh hewan itu. Kemudian hewan itu akan hadir sebagai manusia.

Suatu ketika Entang kosasih berkata, “Menjadi manusia, O, berarti kita harus belajar menjadi bagian dari mereka. Jika seorang bocah disakiti, kita harus merasa sakit, seperti sekujur tubuh sakit ketika kaki kita terluka. Tanpa itu, tak ada manusia. Tanpa belajar menghayati hal tersebut, tak mungkin seekor monyet menjadi manusia.”

Pernyataan Entang Kosasih di atas menyentak kita akan sifat kemanusiaan yang  kita miliki. Mempertanyakan kepekaan sosial kita. Di sisi lain, bila manusia kehilangan sifat dan akal kemanusiannya akan membuat mereka lebih mirip binatang, bahkan lebih buruk dari binatang. Novel ini mengajak kita berpikir kambali tentang sifat kemanusiaan kita. Mempertanyakan apakah kita sudah menjadi manusia ketika kita sudah tidak merasakan sakit ketika kita melihat manusia lain terluka. Apakah kita menderita melihat manusia lain menderita? Atau kita malah menambah derita mereka? Tentu semua ini dalam konteks kehidupan manusia yang sangat rumit.

Seperti yang dikatakan si wanita asing pada Betalumur, “Bangun dan belajarlah dari binatang! Sebab dimataku kau masih seekor binatang.”

Maka menurutku, tak apa sesekali kita mengumpati diri kita sendiri. Anjing! Babi! Kampret! Karena sesekali kita perlu mempertanyakan kemanusiaannya sendiri agar menjadi lebih manusia lagi. 


Lalu Muhammad Jazidi
Mahasiswa Ilmu Politik 2014

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memanusiakan Binatang"

Posting Komentar