Kaum Terpelajar dalam Sangkar Bekisar



Judul buku               : Bekisar Merah
Penulis                      : Ahmad Tohari
Cetakan 5                  : Agustus 2005
Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                           : 979-511-766-1

Desa, di tangan Ahmad Tohari, selalu menyajikan dua hal yang berlawanan: kegetiran hidup dan bentang keasrian alam. Dalam setiap karyanya, latar pedesaan memiliki kekuatan untuk mengantar pembaca menengok Indonesia dari bawah. Sebuah wilayah yang selalu terpinggirkan, terbelakang, dan kebanyakan ditinggalkan. Tak terkecuali oleh Lasi, perempuan hasil kawin antara tentara Jepang dengan perempuan bumiputera bernama Wiryaji di masa pendudukan Jepang.

Lasi bak emas di tengah lautan pasir. Elok, sekaligus menyimpan keirian dan desas-desus. Ia berkulit putih dengan urat biru yang tampak jelas dari balik kulit, rambut hitam tergerai, dan paras wajah khas peranakan campuran Jepang-Jawa. Sejak kecil, Lasi sudah menjadi bahancemooh dan gunjingan, baik oleh teman seumuran maupun orang dewasa. Ibarat laron yang menyukai cahaya lampu, kultur sosial desa pun sangat gemar akan gunjingan dan rerasan. Lasi pun menjadi bahan gunjingan yang tiada habis, dari mempertanyakan asal-usulnya, kehidupan rumah tangganya, hingga polah kehidupan Lasi lainnya.

Latar dalam novel iniadalah Desa Karangsoga. Tohari piawai menggambarkan detail kehidupan dan bentang alam Karangsoga. Di balik hamparan hijau pepohonan, di antara riak air sungai, kehidupan para penyadapnira yang penuh kegetiran dimunculkan secara gamblang. Adalah Darsa, seorang penyadap nira yang menjadi wakil potret buram kehidupan para penyadap nira. Demi tercukupnya makanan hari esok, para penyadap nira mesti bertaruh nyawa memanjati puluhan pohon kelapa untuk mengambil nira. Selanjutnya, di rumah, istri akan bekerja mengolah nira menjadi gula yang siap dikirim ke tengkulak.

Rekam kegetiran sangat jelas kentara saat harga gula turun, dan musim penghujan tiba. Nira menjadi lembek, kayu bakar sulit didapatkan, dan resiko taruhan nyawa lebih besar: entah tersambar petir di atas pohon atau terpeleset karena batang yang licin. Namun, kematian dipandang sekadar guratan takdir dari Tuhan. Menyadap dan mengolah nira menjadi gula adalah pilihan satu-satunya bertahan hidup dari hari ke hari. Warga Karangsoga tidak memiliki keahlian selain menggantungkan hidupnya pada pohon kelapa. Kerumitan itulah yang pada akhirnya mengantar Lasi keluar dari desa. Lasi pergi ke Jakarta, dan menjatuhkan pilihan diperistri mantan perwira kaya dari Jakarta.

Desa tidak pernah lepas dari tiga masalah besar yang berkelindan erat, yakni kemiskinan, kekolotan, dan keterbelakangan. Tiga persoalan itu seolah terpelihara tanpa satu pun pihak yang berusaha memberi jalan terang. Di Karangsoga, penyadap nira adalah korban dari keterbelakangan mereka yang dipermainkan oleh para tengkulak. Harga nira bisa jatuh dan naik sesuai dengan kehendak para tengkulak, tanpa sebab yang mereka ketahui pasti. Di sisi yang lain, kekolotan terpelihara karena akses pendidikan dan pencerdasan yang tak mampu mereka raih. Buntutnya, kemiskinan menjadi terstruktur dan meluas ke hampir seluruh masyarakat.

Kegetiran hidup masyarakat penyadap di Karangsoga terekam jelas di mata Kanjat, anak bungsu dari tengkulak bernama Pak Tir. Orang tuanya cukup kaya sehingga mampu membiayai kuliah Kanjat hingga jenjang pendidikan tinggi.

Kanjat tak pernah lupa, bagaimana kemiskinan di Karangsoga telah merebut teman-teman bermainnya. Keasyikan bermain gasing dan kelereng harus terhenti sebab teman-temannya harus membantu orang tuanya bekerja mencari kayu bakar. “Karena sebab yang sama teman-teman bermain Kanjat kebanyakan putus di jalan sebelum tamat sekolah desa. Dan teman-teman yang kemudian yatim karena ayah mereka meninggal setelah jatuh ketika menyadap nira; Kanjat tak bisa melupakan tangis mereka. Atau teman-teman yang emaknya kena musibah karena tengan terperosok ke dalam kawah yang berisi tengguli mendidih; suara tangis mereka masih terngiang dalam telinga. Atau si Cimeng; ayahnya harus masuk penjara selama lima bulan karena kedapatan membawa cabang-cabang pinus yang dipungut di tepi hutan untuk kayu bakar.” (hal. 121)

Kegetiran hidup itu berlanjut saat harga gula jatuh: “Teman-teman itu tak punya tenaga buat main kelereng atau kucing-kucingan karena perut tak cukup terisi makanan.” Kanjat menjadi saksi bagaimana kehidupan miskin Karangsoga begitu akut. Hal itulah yang menumbuhkan keinginan Kanjat merubah nasib masyarakat desa Karangsoga.

Sebuah pilihan keberpihakan pada masyarakat desa yang jarang diambil oleh para kawan sejawatnya di perguruan tinggi. Saat kawan-kawannya memilih bekerja di perusahaan, baik swasta maupun pemerintahan demi mengejar kemapanan, Kanjat memilih menjadi peneliti demi memperbaiki kondisi hidup para penyadap.

Piutang
Kanjat paham, kehidupan makmurnya selama ini ditopang oleh nira yang disadap masyarakat sekitarnya. Kenyataan itu membentuk satu kesadaran bahwa Kanjat harus membalas budi. Kanjat berhutang banyak kepada masyarakat Karangsoga. Rakyat kecil memiliki piutang sangat besar pada orang-orang dari lapisan yang lebih makmur. Di titik ini, Tohari seolah menampar keras kebanyakan sarjana yang memilih melupakan piutang masyarakat tersebut. Piutang tersebut tertelan oleh ambisi pribadi memperoleh kenyamanan hidup bermodal intelektual dari institusi yang dibangun dengan dari dana milik rakyat.  

Keinginan Kanjat mengurusi masyarakat Karangsoga bukannya tanpa penolakan. Di mata orangtuanya, apa yang dilakukan Kanjat sangat aneh. “Lho, kalau cuma ingin bisa membuat tungku atau mengakrabi orang Karangsoga, mengapa aku harus menyekolahkan dia sampai jadi insinyur?”

Kondisi struktural tersebut telah mengakar kuat di dalam kultur masyarakat kita. Piutang masyarakat tak lagi disinggung di dalam kelas-kelas sekolah. Kalah penting dari materi-materi pelajaran yang diwadahi kurikulum pusat. Kalah mempesona dari mimpi-mimpi jadi orang kantoran yang kaya. “Piutang para penyadap itu menjadi uap yang terlupakan dan dianggap khayali.” Alhasil, pilihan keberpihakan Kanjat untuk membayar hutang kepada masyarakat justru tidak populer di kalangan kaum terpelajar. Kaum terpelajar telah terjebak—lebih tepatnya menjebak dirinya sendiri— dalam sangkar pragmatis dan egois.

Tridarma Perguruan Tinggi, salah satunya, mengajarkan kita untuk mengabdi kepada masyarakat. Namun, sejauh mana pengabdian masyarakat tersebut dimaknai, adalah persoalan yang sering kali lepas tatkala status mahasiswa sudah ditanggalkan. Kita, sebagaimana kawan-kawan Kanjat, memilih bekerja di perusahaan besar dengan gaji sebagai pertimbangan utamanya.

Tak banyak yang menyadari, akses pendidikan kita hingga sampai di titik ini adalah buah tangan rakyatdalam bentuk iuran bernama pajak. Biaya pembangunan gedung, pemenuhan fasilitas, hingga gajipara pegawai dipungut dari masyarakat semua lapisan, tak terkecuali masyarakat yang miskin. Kaum terpelajar memiliki tanggung jawab besar membangun masyarakat dengan ilmu yang telah didapatkannya.


Jika di mata Kanjat, piutang para penyadap adalah sesuatu yang sangat nyata dan harus dibalas, bagaimana dengan kita? Lha mbuh! [Mia]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kaum Terpelajar dalam Sangkar Bekisar"

Posting Komentar