Presiden Mahasiswa Tidak Enak Hati



“Kami merasa tidak enak hati untuk menerima beasiswa yang anggaran dananya berasal dari masyarakat yang salah satunya berwujud SPI. Berbeda kalau datangnya dari pemerintah, karena itu memang kewajiban. Jangan sampai hal ini menjadi kontradiktif, dikira PPA akan selamanya tidak ada,” kata Ahmad Fauzi, Presiden Mahasiswa Unnes.

Hal ini diungkapkan Ahmad Fauzi terkait pembatalan penerapan Sumbangan Pengembangan Institisi (SPI) yang resmi diputuskan pada audiensi sore ini, Senin (30/5) di Gedung Rektorat lantai empat. Putusan dibacakan secara langsung oleh Rektor Unnes di depan seluruh LK Unnes seperti dalam Surat edaran rektor nomor UN37/DT/2016.  

Sebagai konsekuensi atas pertimbangan tersebut, Unnes melakukan revisi anggaran bidang kemahasiswaan maupun bidang lainnya dan melakukan penataan pembayaran dan mekanime banding uang kuliah tunggal (UKT).

“Sebuah tuntutan harus dengan komitmen, hak diminta ada juga kewajiban. Apa yang menjadi tuntutan mahasiswa kepada pengelola dan apa yang menjadi harapan pengelola kepada mahasiswa, saya pikir memang sah. Tinggal yang terpenting bagaimana kita mengawal keterbukaan informasi tangan pengelola kampus kita maksimalkan. Kita juga bersyukur tuntutan mahasiswa dipenuhi terkait tidak ada diberlakukannya pungutan lain atau SPI. Saya mengapresiasi Unnes yang tetap berpegang teguh pada semangat diberlakukannya tujuan awal UKT, yaitu ketunggalan pada biaya,” tutur Akhmad Fauzi.

Ditemui secara terpisah di sela-sela acara audiensi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Bambang Budi Raharjo menghimbau untuk tidak ada demonstrasi lagi di wilayah kampus. [Zur’atul, Yunita]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Presiden Mahasiswa Tidak Enak Hati"

Posting Komentar