Bekali Pemuda Hadapi Perang Pemikiran



Seorang siswa mati-matian mempertahankan pendapatnya mengenai soal operasi matematika 2 + 2 = 4. Sang guru bersikeras bahwa 2 + 2 = 5. Perbedaan argumen antara siswa dan guru menimbulkan petaka. Siswa tersebut ditembak hingga tewas di depan kelas disaksikan seluruh siswa.

BP2M - Demikian ilustrasi video yang ditampilkan sebelum materi dimulai. Walyono menuturkan bahwa saat ini bukan zamannya perang fisik, melainkan perang pemikiran. Ada dua aspek kekalahan perang pemikiran yang dijelaskan oleh Walyono. Perang pemikiran yang menyebabkan hilangnya sumber alam beserta energi di dalamnya dan perang pemikiran yang menyebabkan hilangnya iman dan Islam dalam diri manusia.

Tidak semua kesalahan berasal dari kalangan muda. Peran orang tua turut menentukan. “Pendidikan agama  yang ditanamkan dalam keluarga sangatlah penting. Sebab, kurangnya menanamkan pendidikan  agama mengakibatkan mudahnya kehilangan Iman dan Islam.

Pendidikan agama pula yang membekali pemuda dalam menghadapi perang pemikiran yang terjadi saat ini dimana menjamurnya berbagai aliran Islam,” ujar Walyono saat menjadi pemateri Kuliah Ahad Pagi (KAP) yang bertempat di Aula Kelurahan Sekaran, Minggu (15/5).

Indonesia memang telah merdeka. Sepatutnya Indonesia dijuluki sebagai negara kaya karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.  Namun, pada kenyatannya, hal yang benar disalahkan dan hal yang salah menjadi wajar. Hal itu menjadi hambatan menuju istilah negara kaya.

Walyono kembali membangkitkan optimisme bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Sulit untuk memperbaiki sesuatu yang rusak, tetapi kita harus berani memulai. Sebab, siapa lagi kalau bukan dari generasi muda. 

“Kuatkan ibadah, cerdaskan pemikiran, dan tumbuhkan energi positif,” pesan Walyono kepada peserta KAP. [Royan Fais]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bekali Pemuda Hadapi Perang Pemikiran"

Posting Komentar