Nikmati Suguhan Kisah Kolosal dari Cendekiawan Seni



BP2M - Orang-orang berpakaian hitam menguasai panggung. Empat orang beradu pendapat mengenai visi hidup. Hingga akhirnya mereka sampai pada satu titik dimana pendapat mereka mencapai dua puncak yang berbeda. Alhasil keempat orang ini mengadu ke eyangnya yang tengah asik dengan tasbihnya. Dari bibir tua yang lembur, eyang bertutur agar mereka menjadi orang yang memiliki karakter lembah manah, dalam bahasa Jawa berarti rendah hati. Wayang kulit dimainkan eyang. Lagi-lagi dia dengan lembut bercerita kepada cucu-cucunya. Lakon Sang Kusumo dibuka.

Alkisah hiduplah seorang kesatria sakti mandraguna di tengah hutan bernama Sumantri. Dia memiliki seorang adik yang berperut buncit, wajahnya buruk rupa juga bodoh, dan tingkah lakunya kekanak-kanakan, seringkali menjengkelkan. Meski begitu, si adik sangat menyayanginya melebihi apapun. Dia tak pernah ingin terpisah sejengkal pun dari kakaknya.

Suatu ketika Sumantri ingin pergi meninggalkan hutan. Maka, mulailah si adik buruk rupanya merengek hendak ikut. Sumantri akhirnya melantunkan tembang pitutur yang indah. Adiknya terbuai sampai-sampai kesadarannya sirna sesaat. Saat tersadar, si adik frustasi berat, kakak tersayangnya telah pergi jauh.

Lampu panggung berpendar-pendar, warnanya silih berganti. Gedibak-gedibuk gerak penari masuk makin menyemarakkkan suasana. Dengan kostum sederhana berupa balutan jarik beserta stagen menjadi pakaian bawahan, ditambah coreng moreng sembrono di badan dan wajah, mereka menyemarakkan suasana. Suara riuh dan gelak tawa penonton menghias awal pertunjukan. Gerakan para penari terkesan bebas, kekanak-kanakan, dan sembrono mengolok-olok nasib si adik buruk rupa.

Alunan lembut gamelan dan tembang bercengkok membuka babak baru. Di suatu negeri terdapat sebuah sayembara untuk menjadi patih. Karena kesaktiannya, Sumantri terpilih. Singkat cerita, pada suatu hari permaisuri raja tengah menghabiskan waktu di taman Sriwedari yang begitu elok. Sayangnya, keelokan taman berangsur pudar manakala si adik buruk rupa datang untuk mencari kakak yang begitu dielu-elukannya. Permaisuri mengadu kepada raja. Raja seketika memanggil Sumantri. Sumantri mulai dikuasai angkara murka. Dia marah lantas menyuruh si adik pergi jauh-jauh, namun si adik tidak mau. Dia tetap ingin berada di dekat kakaknya. Kemarahan Sumantri memuncak. Sungguh dia begitu kalap menusuk adiknya. Bagaimana mungkin seorang kakak tega membunuh adik sendiri? Penyesalan terus menghantui. Dirinya sungguh menyesal lantas memilih mengakhiri hidup.

Kisah kolosal inilah yang menyemarakkan gedung B6 semalam (23/4). Panggung begitu memanjakan mata dengan para pemainnya yang atraktif walaupun berkostum sederhana. Aksi jenaka adik Sumantri berhasil memikat hati para penonton. Duduk lesehan di tikar berjam-jam menjadi tak terasa.

Ada peribahasa mengatakan, ‘mengadu ujung jahit’ yang artinya sangat sulit menyatukan pikiran para cendekiawan. Agaknya hal ini berhasil dilewati oleh para cendekiawan seni di UKM Kesenian Jawa. Mereka sukses menyatukan ide hingga tercipta suatu karya yang menghibur dan mengedukasi sekaligus menyuarakan upaya melestarikan kesenian luhur tanah Jawa.

Zuni Lailis Sa’ati, paniti tari klasik, dengan lembut menuturkan, tema acara kali ini yaitu sekar rembesing madu, dengan harapan para pengurus baru dan anggota baru UKM Kesenian Jawa yang telah diwisuda secara simbolik sebelum lakon cerita dimulai, dapat menjadi bunga yang akan membuat manis UKM. [Fafii, Royan]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nikmati Suguhan Kisah Kolosal dari Cendekiawan Seni"

Posting Komentar