Menjadi Perempuan, Cukup Itu Saja!


Resensi buku Perempuan Panggung
Sonia Gandhi dan kover buku Perempuan Panggung (Dok. Mia)
Judul              : Perempuan Panggung
Pengarang     : Imam Budhi Santosa
Tahun terbit  : 2007
Penerbit         : Navila (viii+260 hlm: 18 cm)
ISBN               : 979-950-376-0

Perempuan selalu menjadi magnet menarik untuk dibawa dalam suatu cerita. Bagai sayur tanpa garam, begitulah nasib sebuah cerita tanpa adanya taburan tokoh perempuan. Perempuan diulas dari berbagai sudut kehidupannya. Menampakkan sekelumit cerita yang jarang menjadi perhatian. Menggambarkan perjuangan perempuan memunculkan satu realita bahwa perempuan bukan manusia kelas dua. Perempuan memiliki kehidupannya sendiri, perjuangan, nilai, dan keunikannya. Tak pantas jika kemudian membandingkan dengan laki-laki karena memang sudah berbeda. Menjadi setara adalah ketika perempuan menempatkan dirinya sebagai perempuan, bukan ingin menjadi seperti laki-laki.

Begitulah perempuan bernama Suciati yang menjadi tokoh utama dalam novel Perempuan Panggung karya Imam Budhi Santoso. Suci menjadi gambaran bahwa perempuan hebat tak selalu harus berusaha menyetarakan dirinya dengan ikut menjadi seperti laki-laki. Feminisme yang digembar-gemborkan Barat nyatanya tak lebih dari konsep pikir yang keliru, radikal, dan tak sesuai dengan nilai Timur. Di sini, Imam—meski laki-laki—menghadirkan perspektif baru dalam memandang perempuan sebagai perempuan, makhluk setara dengan laki-laki tanpa harus menjadi seperti laki-laki.

Suci adalah mahasiswa Fakultas Hukum sebuah universitas di Yogyakarta. Pertemuannya dengan seorang anak gelandangan yang bernama Minul telah mengantarkannya dalam berbagai gejolak hidup. Keinginannya menyelamatkan Minul didorong oleh rasa kasihan dan prihatin dengan nasib anak-anak kecil di jalanan. Mereka harus mencuri untuk sekadar mengisi perut yang sudah beberapa hari kosong. Berani mempertaruhkan nyawa demi menyambung hidup karena ketika ketahuan mencuri, tak ada ampun bagi pelaku.

Gambaran kerasnya kota Yogyakarta direntangkan dengan jelas oleh Imam. Bagaimana kehidupan anak jalanan dibangun dengan menceritakan lika-liku kehidupan anak-anak jalanan. Selain itu, yang menjadi menarik lagi dari novel ini adalah disinggungnya masa lalu Suci yang hidup di Bandungan, Ambarawa. Sebuah tempat yang akrab sebagai kawasan prostitusi di kaki Gunung Ungaran. Suci lahir dari sana, sebuah perkampungan yang selalu ingin dijauhi oleh Suci. Dalam penggambarannya, jejak histori Bandungan menjadi kawasan prostitusi ditarik untuk memberikan pandangan sejarah.

Wilayah Bandungan dulu digunakan oleh para tentara Belanda untuk melepas hasrat seksualnya dengan perempuan pribumi. Tak sedar memakai, tentara Belanda juga menghargai jasa seksual dari para perempuan di wilayah tersebut. Akhirnya, hal itu menarik banyak perempuan untuk datang ke Bandungan, menjadi perempuan penjaja seks untuk tentara Belanda. Kehadiran mereka tidak disalahkan oleh warga setempat. Tapi justru didukung karena bisa menyelamatkan gadis-gadis asli Bandungan yang biasanya diburu secara paksa oleh tentara Belanda. Jejak histori itu hingga kini masih berlanjut.

Lika-liku dan alur cerita yang tidak bisa ditebak memberikan efek penasaran bagi pembaca. Setelah pertemuan dengan Sigit, seorang ketua teater Dharma di Yogyakarta, Suci ditawari untuk memainkan lakon Drupadi dalam pentas Pandawa Dadu. Namun naas, saat sedang latihan di Pantai Parangtritis, Sigit tewas akibat serangan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Suci akhirnya harus menghadapi persoalan-persoalannya sendiri. Masalah cinta, kuliah, orang tua, dan tentunya bertanggung jawab atas rasa ibanya kepada Minul.

Sayang, akhir cerita itu menggantung. Dalam novel sebanyak 260 halaman ini menyisakan banyak pertanyaan. Tentang siapa pembunuh Sigit yang menjadikan cerita ini semakin membuat pembaca penasaran. Sampai di akhir, pertanyaan itu justru menggantung tanpa ada jawaban.

Namun di luar kelemahan itu, novel ini layak dibaca sebagai gambaran ikhwal perempuan yang sejati. Keberanian Suci untuk membesarkan dan merawat anak jalanan inilah yang menjadi pemanggul wacana besar terhadap isu perempuan di era sekarang.

Weiblich
Feminisme barat yang saat ini bergelombang menjadi sasaran kritik novel ini. Kesetaraan perempuan diperjuangkan untuk mengeksploitasi perempuan yang justru merendahkan. Gaya hidup ditonjolkan, pemujaan atas kedudukan, kemewahan, kecantikan, dan keliaran semakin didengungkan. Bahwa perempuan harus setara dengan laki-laki. Jika laki-laki berhak untuk berpoligami, perempuan juga punya hak sama. Sedangkan keadaban, kesantunan, dan kehormatan sebagai perempuan justru ditinggalkan.

Perempuan adalah makhluk yang sudah digariskan setara dengan laki-laki. Hanya saja, peran dan tanggungjawabnya berbeda sehingga perbedaan itu sebenarnya saling melengkapi. Perempuan tidak harus menjadi laki-laki untuk setara. Perempuan cukup menjadi perempuan saja. Margarete Mitscherlich dalam bukunya Die Zukunft ist Weiblich (Masa depan adalah betina) secara jeli merumuskan dua kutub, betina dan jantan, yang saling menyeimbangkan. Weiblich adalah istilah untuk perempuan, dan maennlich untuk laki-laki.

Weiblichditandai dengan sikap penuh tepa selira (tenggang rasa), toleran kepada pihak lemah, bersikap merawat, dan memikirkan penderitaan orang lain. Berbeda dengan pola pikir maennlich yang memuat hasrat menguasai, nafsu agresif, serta memiliki perasaan yang paranoid. Implikasi sifat maennlich ini mewujudkan dalam sikap sulit mawas diri, curiga pada sesama, suka menyalahkan yang lain, tidak mengakui kesalahan, dan penuh semangat balas dendam. Secara natural, betina lahir untuk mengemong dan merawat dunia yang dekat dengannya.

Kita bisa melihat sekarang bagaimana perempuan justru bertransformasi meninggalkan Weiblich-nya dan mengangkat tinggi maennlich sebagai gantinya. Nama-nama seperti Angeline Sondakh, Ratu Atut, Wa Ode Nurhayati, Artalyta Suryani, Nunun Nurbaeti tentu sudah tak lagi asing di telinga kita. Sebuah status diri yang dibayar mahal untuk mendapatkan pengakuan atas kekuasaan. Mereka dengan berani merampok milik rakyat, tanpa kira dan minus rasa.

Ini berbeda dengan laku yang ditunjukkan oleh Sonia Gandhi. Ia menolak jabatan sebagai perdana menteri Indonesia, walau jabatan itu sebenarnya adalah haknya. Weiblich yang didemonstrasikan oleh Sonia Gandhi berhasil meredam kericuhan bangsa dan negaranya. Ia dipuja sebagai ibu negara bagi rakyat India.


Sekarang isu perempuan bukan lagi bagaimana peran perempuan dapat merambah berbagai bidang. Tapi bagaimana perempuan tetap bisa menjadi perempuan agar bisa memenuhi kodratnya sebagai perempuan. Feminisme Barat yang kebablasan berpotensi membunuh weiblich. Sesuatu yang tidak patut dibanggakan perempuan. Menjadi perempuan, cukup itu saja!


M Irkham Abdussalam
Penikmat (cerita) perempuan

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjadi Perempuan, Cukup Itu Saja!"

Posting Komentar