Cerita Jakarta di Waktu Senja


Senja, secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta sandhya, yang “berarti saat matahari baru terbenam”. Kata senja semakin kuat oleh simbol-simbol kebendaan yang melekat padanya. Secara definisi simbolik, senja diwakili oleh adanya benda berupa matahari yang tengah atau akan terbenam. Dalam entitas wilayah religius, senja bisa diasosiasikan dengan maghrib—waktu saat adzan sholat tiga rakaat dikumandangkan.

Dibangun oleh kekuatan kelompok yang dominan, senja kerap kali tidak akrab di telinga daripada kata maghrib untuk merepresentasikan kondisi matahari terbenam. “Sudah maghrib, ayo pulang” jauh lebih terasa nyaman di telinga daripada penggunaan, “Sudah senja, ayo pulang”. Senja mewakili mozaik kecil di antara dua waktu besar sekaligus sebagai jembatan yang menghubungkan peralihan waktu siang ke waktu malam. Maghrib sebagai ruang kontemplasi masyarakat muslim untuk bertemu Tuhannya di pakai sebagai pengganti senja yang agaknya kurang begitu akrab di masyarakat yang didominasi oleh Muslim.

zomplanksuryana.blogspot.com 
Waktu maghrib ditangkap secara baik, diolah secara sempurna dan disajikan dengan ringan untuk memperlihatkan secara gamblang lapisan-lapisan kehidupan sosial di waktu yang singkat. Salman Aristo, seorang penulis skenario yang punya segudang pengalaman di dunia perfilman membangun cerita yang menarik dengan mengasosiasi waktu maghrib dan kehidupan sosio kultural kota nomor wahid di Indonesia, Jakarta. Aristo berusaha menangkap maghrib bukan sebagai fenomena religius semata namun sebagai sebuah konsep setting waktu yang menjadi basic penting dalam lima tautan cerita yang digarapnya untuk menyampaikan suatu pesan sekaligus realitas mengenai Jakarta.

Cerita pertama menggambarkan kehidupan Iman yang dimainkan oleh Indra Birowo. Iman yang bekerja sebagai seorang satpam selalu dituntut untuk pergi kerja pagi dan pulang sore. Setelah sampai di rumah, ia disambut jerit tangis anaknya yang masih berumur beberapa bulan. Di sebuah kamar bersama Nur—istrinya—Iman merengek meminta jatah waktu untuk menyatukan lahir dan batin bersama istrinya yang telah tiga hari dihambat lembur kerja. Namun maghrib menjadi rival yang menggagalkan hasrat Iman menggauli istrinya yang membuat Iman muntab.

Cerita kedua tentang seorang preman kampung yang masih dibekap mabuk semalam. Berjalan di depan mushola dan mampir ke warung seorang Kiai penjual kerupuk. Preman tersebut tak habis pikir, mengapa masih banyak orang terus menyumbang masjid namun tidak pernah hadir ketika Tuhan memanggil. Tambah bingung pula preman tersebut ketika mendengar apa yang menjadi kesenangan hidup sang Kiai yang tampak lemah dan letih. “Adzan di mushola”.

Cerita ketiga mengenai pertemuan para penghuni di sebuah kompleks rumah. Mereka yang sudah hidup dan tinggal di kompleks rumah tersebut selama bertahun-tahun tidak pernah mengenal sebelum suatu insiden kecil akhirnya mempertemukan para penghuni kompleks. Momen menunggu Aki—penjual nasi goreng langganan orang-orang kompleks rumah tersebut—membuat mereka duduk dalam satu tempat yang sama, setara dan memulai obrolan pertama mereka setelah bertahun-tahun hidup dalam gua individualitas. Menanggalkan baju status sosial mereka yang bekerja sebagai apa dan di mana.

Cerita keempat diisi tokoh bernama Ivan, seorang anak kecil yang membolos sekolah lalu pergi ke tempat rental Play Station di waktu menjelang maghrib. Mitos selalu diperdengarkan oleh anak-anak sebagai bahan ancaman orang tua agar anak taat pada perintah. Mitos maghrib yang banyak dihuni kuntilanak pemangsa anak dan setan-setan pun menjadi asupan imaji anak-anak tanpa mengenal batas wilayah. Tidak pula hanya di desa, bahkan di Jakarta, mitos setan yang banyak berkeliaran di waktu maghrib juga mendiami isi kepala anak-anak Jakarta.

Cerita kelima menggambarkan bagaimana rumitnya hubungan asmara dua sejoli yang sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun. Dibalut jalanan kampung yang padat, pasangan tersebut terlibat adu mulut di sepanjang perjalanan mereka yang dituntut harus sampai di tempat pernikahan kerabatnya sebelum maghrib. Dengan sub judul, “Jalan Pintas”, laki-laki yang diperankan aktor kawakan Indonesia, Reza Rahardian mengambil jalan pintas untuk sampai di tempat tujuan. Dipenuhi dengan debat mengenai tanggung jawab menikah dan konflik dengan warga terkait jalan, plot ini terasa ingin menyampaikan pesan bahwa menikah menjadi suatu yang harus dicapai sekaligus dihindari dalam waktu bersamaan.

Waktu maghrib menjadi representasi pas untuk menggambarkan persoalan-persoalan mendasar di Jakarta. Tak perlu berbicara mengenai carut marutnya Jakarta dalam konteks masalah yang besar, masalah-masalah sederhana macam anak membolos sekolah, individualisme, tingkat relijius yang rendah, hingga konflik plural dan kepentingan di masyarakat kecil Jakarta sudah cukup menjadi penanda bahwa Jakarta tak selamanya bersahabat. Ada masalah yang jauh lebih urgent dari sekadar ingin berduit banyak. Kebahagiaan selalu sukar dirajut di tengah banyaknya idealisme kepentingan dari setiap manusia yang mendiami Jakarta, mulai dari yang hanya hidup di gang kecil, terpinggirkan, dan jauh dari kesan mewah hingga manusia yang hidup di puncak apartemen mahal, bermobil mewah dan berstatus sosial tinggi.

Kehidupan sosio-kultural masyarakat di Jakarta juga menginterpretasi sebuah pesan tentang bagaimana maghrib menjadi waktu yang dimaknai secara berbeda oleh tiap manusia. Kelas bawah memandang maghrib sebagai momen religius, kelas menengah menganggap maghrib sebagai jam pulang, kelas atas mengartikan maghrib sebagai waktu memulai berpesta. Anak-anak merasakan maghrib sebagai datangnya setan-setan yang akan memakan mereka, remaja menjadikan maghrib sebagai waktu untuk berkontemplasi, orang dewasa mengartikan maghrib sebagai ruang bercengkrama dengan pasangan, dan orang tua menyerap maghrib sebagai waktu bersimpuh di hadapan Tuhan.

Salman Aristo dan film Jakarta Maghrib seperti sebuah teori hasil pemikiran dan cara pandangnya tentang Jakarta. Hanya sebatas penanda dan pengingat. Entah ingin dijadikan sebagai bahan hiburan semata, sekadar cerita pengantar tidur, atau sebagai sebuah bahan refleksi diri. Itu adalah hak penikmat film ini. Yang pasti, Salman telah berkreasi, mencurahkan gagasan dalam film ini sebagai penanda dan pengingat. Hanya sebatas itu, sesederhana itu, dan hanya sesingkat itu. Seperti senja yang hanya sebatas menjadi jembatan singkat dan sederhana antara malam dan siang. Tidak lebih dan tidak kurang. 





Muhammad Irkham Abdussalam
Mahasiswa yang galau karena prota, promes, probul, dan proming PPL belum kelar sama sekali.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerita Jakarta di Waktu Senja"

Posting Komentar