Belajar Menjadi Manusia dari Kisah Monyet


cover buku Monyet dan Kacang Kegemarannya 
“Di kalangan pemburu monyet Afrika, dikenal sebuah teknik hebat menangkap monyet hidup-hidup. Mereka membuat toples berleher panjang, ditanam di tanah, lalu diisi kacang. Saat monyet datang, memasukkan tangan ke dalam toples untuk mengambil kacang itu, monyet-monyet tidak bisa melepaskan genggaman tangannya dari leher panjang toples tersebut. Tentu saja mo“Di kalangan pemburu monyet Afrika, dikenal sebuah teknik hebat menangkap monyet hidup-hidup. Mereka membuat toples berleher panjang, ditanam di tanah, lalu diisi kacang. Saat monyet datang, memasukkan tangan ke dalam toples untuk mengambil kacang itu, monyet-monyet tidak bisa melepaskan genggaman tangannya dari leher panjang toples tersebut. Tentu saja monyet-monyet akan kesulitan menarik tangannya gara-gara terus menggenggam erat kacan tersebut. Seandainya saja mereka melepaskan genggaman kacang-kacang kegemaran tersebut dari tangannya, niscaya mereka akan mudah melepaskan tangannya, sebagaimana mereka mudah memasukkan tangannya ke dalam mulut toples tersebut.”

Analogi yang sederhana namun menyentuh hingga dasar pemikiran pembaca. Melalui buku “Monyet & Kacang Kegemarannya”, Abdul Azid Muttaqin mencoba meruntuhkan blok-blok hitam dalam pikiran manusia yang senantiasa menghalangi untuk melangkah maju.

Kisah-kisah pendek luar biasa sejumlah 53 buah tersebut terangkum apik dalam desain cover yang unik, lucu dan renyah. Buku yang masuk dalam kategori buku motivasi ini dihadirkan untuk menjadi refleksi bagi manusia.

Kita—sadar atau tanpa sadar—berlaku serupa monyet-monyet tersebut. Menggenggam erat dendam, iri, benci, marah, illfeel, dan segudang rasa kedengkian lainnya kepada orang lain sehingga justru membuat seluruh kenyamanan dan kebahagiaan hidup kita terkorbankan. Hanya karena kacang, monyet kehilangan hidupnya. Hanya karena kebencian, kita kehilangan kebahagiaan hidup.

Beragam cerita pendek yang dihadirkan disertai dengan kalimat-kalimat hikmah. Kisah-kisahnya pun mengambil beragam sudut pandang. Tidak hanya mengambil manusia sebagai subjek cerita, namun juga makhluk hidup maupun tidak hidup dilibatkan sebagai tokoh utama dalam sebingkai cerita-cerita penuh hikmah.

Memang jika kita saat ini melihat, akan banyak sekali kita temukan dunia yang semakin kompetitif. Angka stress dan depresi di era kini semakin tinggi menunjukkan bahwa ada satu beban yang ditanggung oleh psikis. Blok-blok seperti ke-iridengki-an, kesedihan, kebencian, pamrih, egois, tidak mau kalah dan lain-lain menjadikan beban yang berat bagi hidup dan kehidupan manusia sendiri.

Melalui cerita-cerita pendeknya, Abdul mencoba untuk mengetuk pintu kalbu manusia bahwa pikiran-pikiran negatif akan mengantarkan pada kehampaan hidup. Ruang refleksi itu tergambar jelas dan mudah dipahami dalam setiap diksi kata yang dipilih sehingga tidak sulit bagi pembaca—baik anak-anak hingga dewasa—untuk menikmatinya. Membacanya semudah membalikkan telapak tangan. Memetik hikmahnya, semudah memetik daun dari batang.

Melalui cerita, Abdul mencoba menghadirkan prespektif baru dalam memandang setiap masalah. Melalui kata-kata pula, ia menghadirkan monyet dan kacang kesayangannya sebagai sebuah analogi bagi manusia dan blok-blok pembunuhnya agar bisa menjadi petuah bagi pembacanya.

nyet-monyet akan kesulitan menarik tangannya gara-gara terus menggenggam erat kacan tersebut. Seandainya saja mereka melepaskan genggaman kacang-kacang kegemaran tersebut dari tangannya, niscaya mereka akan mudah melepaskan tangannya, sebagaimana mereka mudah memasukkan tangannya ke dalam mulut toples tersebut.”

Analogi yang sederhana namun menyentuh hingga dasar pemikiran pembaca. Melalui buku “Monyet & Kacang Kegemarannya”, Abdul Azid Muttaqin mencoba meruntuhkan blok-blok hitam dalam pikiran manusia yang senantiasa menghalangi untuk melangkah maju.

Kisah-kisah pendek luar biasa sejumlah 53 buah tersebut terangkum apik dalam desain cover yang unik, lucu dan renyah. Buku yang masuk dalam kategori buku motivasi ini dihadirkan untuk menjadi refleksi bagi manusia.

Kita—sadar atau tanpa sadar—berlaku serupa monyet-monyet tersebut. Menggenggam erat dendam, iri, benci, marah, illfeel, dan segudang rasa kedengkian lainnya kepada orang lain sehingga justru membuat seluruh kenyamanan dan kebahagiaan hidup kita terkorbankan. Hanya karena kacang, monyet kehilangan hidupnya. Hanya karena kebencian, kita kehilangan kebahagiaan hidup.

Beragam cerita pendek yang dihadirkan disertai dengan kalimat-kalimat hikmah. Kisah-kisahnya pun mengambil beragam sudut pandang. Tidak hanya mengambil manusia sebagai subjek cerita, namun juga makhluk hidup maupun tidak hidup dilibatkan sebagai tokoh utama dalam sebingkai cerita-cerita penuh hikmah.

Memang jika kita saat ini melihat, akan banyak sekali kita temukan dunia yang semakin kompetitif. Angka stress dan depresi di era kini semakin tinggi menunjukkan bahwa ada satu beban yang ditanggung oleh psikis. Blok-blok seperti ke-iridengki-an, kesedihan, kebencian, pamrih, egois, tidak mau kalah dan lain-lain menjadikan beban yang berat bagi hidup dan kehidupan manusia sendiri.

Melalui cerita-cerita pendeknya, Abdul mencoba untuk mengetuk pintu kalbu manusia bahwa pikiran-pikiran negatif akan mengantarkan pada kehampaan hidup. Ruang refleksi itu tergambar jelas dan mudah dipahami dalam setiap diksi kata yang dipilih sehingga tidak sulit bagi pembaca—baik anak-anak hingga dewasa—untuk menikmatinya. Membacanya semudah membalikkan telapak tangan. Memetik hikmahnya, semudah memetik daun dari batang.

Melalui cerita, Abdul mencoba menghadirkan prespektif baru dalam memandang setiap masalah. Melalui kata-kata pula, ia menghadirkan monyet dan kacang kesayangannya sebagai sebuah analogi bagi manusia dan blok-blok pembunuhnya agar bisa menjadi petuah bagi pembacanya.





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Menjadi Manusia dari Kisah Monyet"

Posting Komentar