Mahasiswa Malu Jajan Kelontong Demi Pengakuan Status Sosial


Peralihan mata pencaharian warga Sekaran kini makin terasa. Dulu utamanya menjadi petani, kini semenjak Unnes pindah ke Sekaran, banyak pekerjaan baru dipilih untuk menggantikan profesi sebagai petani. Seperti membuka kos, warung makan, toko kelontong, fotocopy, jasa laundry, dan sebagainya.

Seiring berkembangnya Unnes yang semakin pesat, usaha bisnis di Sekaran pun kian meningkat. Banyak pendatang yang membuka usaha di Sekaran karena dirasa cukup strategis dan menguntungkan untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Bahkan banyak pula yang membuka gerai toko modern yang cukup berhasil menarik minat pembeli. Menjadi masalah ketika semakin banyak berdiri toko modern di wilayah Sekaran, sedang kebanyakan pedagang kecil lokal tidak mampu menyaingi usaha toko modern yang sudah menggunakan fasilitas dan sistem yang terintegrasi dari pusat. Sehingga, terjadilah penurunan angka penghasilan dari beberapa pedangan kecil di wilayah Sekaran.

Seberapa besar pengaruh retail modern bagi masyarakat Unnes? Jika dipandang dari sisi Sosial, apakah hal tersebut berdampak positif atau negatif?
Tri Marhaeni

Berikut petikan wawancara NuansA dengan dosen Sosiologi dan Antropologi:

Mengapa warga cenderung lebih suka berbelanja ke toko modern daripada warung kelontong kecil?
Masyarakat kini telah memiliki gaya hidup. Kebanyakan dari mereka umumnya akan memilih belanja di toko modern sebagai representasi identitas orang punya duit. Mereka akan merasa seperti orang kota bahwa mereka pun memiliki uang, mereka mampu belanja di toko modern. Walaupun mungkin hanya berbelanja Rp 20.000- bahkan kurang. Namun, mereka bangga. Banyak juga orangtua yang lebih memilih mengajak anaknya untuk berbelanja di toko modern sebagai ajang rekreasi.

Apa yang membuat toko modern mampu menarik perhatian masyarakat sehingga selalu ramai pembeli?
Toko modern hadir dengan fasilitas dan sistem yang berbeda dengan toko kelontong. Beberapa keunggulannya seperti, tempat yang nyaman, barang-barang yang ditata rapih, harga dan sistem pembayaran yang jelas dan praktis tanpa harus banyak bertanya, nyaman saat mengajak anak tanpa rasa takut dicurigai karena biasanya anak-anak suka memegang barang-barang yang dijual, juga tersedianya lahan parkir yang luas.

Lalu, apa yang semestinya dilakukan oleh pedagang toko kecil dalam menghadapi persaingan dengan toko modern itu?
Menyikapi hal semacam itu semestinya pedagang kecil kini mampu lebih kreatif untuk berinovasi. Mereka jangan lagi menjual barang-barang yang banyak dijual di toko modern. Tapi, cobalah untuk banting stir, mereka bisa menyediakan barang-barang yang tidak dijual di toko modern.

Jika pedagang kecil tak kuat lagi bertahan, apa yang musti dilakukan?
Saya kira setiap toko mempunyai pangsa pasar masing-masing. Jika ia ingin bersaing dengan toko modern namun dengan cara itu-itu saja tentu tak akan mungkin bisa. Jadi, silakan rumuskan pangsa pasar seperti apa yang dituju.

Anda setuju dengan berdirinya retail modern?
Oh, tentu setuju. Saya sering berbelanja ke retail modern dengan anak saya. Beli sesuatu ya anak saya minta ke retail modern. Kalau beli di toko kecil kan susah mbak, tidak ada label harga masih pula ada tawar menawar dan kadang barang yang dibutuhkan tak tersedia.

Bagaimana sebaiknya sikap warga dalam berbelanja? Adakah batasan untuk bersikap adil berbelanja antara di toko modern dengan toko kelontong?
Menurut saya, semuanya terserah warga. Lagi pula soal belanja, itu menjadi hak setiap warga, mereka lebih nyaman berbelanja di mana, itu kembali ke masing-masing individu, dan kita tidak bisa memaksa. Karena fenomena seperti ini tuntutan era modern, bagaimanapun kita akan sulit mengelak dan menghindari maraknya toko modern seperti itu.

Bagaimana pendapat Anda jika ada rencana penutupan toko modern?
Oh itu tidak mungkin. Keberadaan toko modern sudah sangat melekat pada warga. Tentu toko modern sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan banyaknya warga di Sekaran dan puluhan ribu mahasiswa. Kirana D Prameswari

Biodata:
Nama         : Prof. Dr. Tri Marhaeni Puji Astuti, M.Hum
Tempat, tanggal lahir : Purwodadi, 9 Juni 1965
Riwayat Pendidikan : S1 Jurusan PKn IKIP Semarang
 S2 Jurusan Gender Studies Universitas Indonesia
 S3 Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada
Pekerjaan : Dosen Sosiologi dan Antropologi Unnes
 Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pendidikan LP3 Unnes


Tulisan diatas pernah dimuat di TABLOID NUANSA Mahasiswa Unnes Edisi 133 tahun 2014. dengan judul, Marhaeni: Pentingnya Pengakuan Status Sosial
savekelontong
#savekelontong


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahasiswa Malu Jajan Kelontong Demi Pengakuan Status Sosial"

Posting Komentar