Konservasi yang Masih Setengah-Setengah


Sumber : https://aanhisto.wordpress.com/cinta/

Sejak Unnes mendekalarasikan diri sebagai universitas konservasi tanggal 12 maret 2010, Unnes semakin giat menghijaukan kampusnya. Berbagai kegiatan diselenggarakan mulai dari menanam pohon di kampus, menanam mangrove di tepi pantai sampai upaya pengolahan sampah. Upaya-upaya tersebut  dilakukan demi tercapainya konservasi lingkungan untuk menyelamatkan bumi.

Kampus Unnes tak hanya satu, tetapi ada pula yang menyebar di luar kampus Unnes Sekaran, salah satunya kampus PGSD Ngaliyan. Terpisah dari kampus utama, menjadikan adanya perbedaan pada beberapa penyelenggaraan kebijakan Unnes. Misalnya saja pada penegakkan kebijakan konservasi di kampus Ngaliyan.

Konservasi di Ngaliyan belum terlalu ditegakkan. “Hanya sebatas menanam pohon. Belum sampai pada merawat pohon,” kata Umar Samadhy, dosen yang sering bertugas di Ngaliyan dan Sekaran(10/4).

BP2M kemudian mencoba mengamati konservasi yang ada di kampus PGSD Ngaliyan dan berkunjung ke sana.

Tampak dari luar, kampus PGSD Unnes di Ngaliyan terlihat rindang. Saat masuk, tempat parkir tertata rapi. Namun ketika berada di depan masjid yang berada di dalam kampus Ngaliyan, motor diperbolehkan masuk kampus.

Tidak hanya itu, di belakang gedung-gedung terdapat mesin AC yang sedang beroperasi.  Saat kami melihat ke arah  jurang yang berada di belakang kantin, kami dikejutkan denga pemandangan di sana. Ternyata terdapat pemandangan yang kurang konservasi. Tepi jurang tersebut beralih menjadi tempat pembuangan sampah. Terdapat juga pemandangan bekas pengerukan tanah di bukit milik Unnes.

Beberapa mahasiswa yang kami wawancarai, menyatakan bahwa tidak adanya tempat sampah yang memadai sehingga membuang sampah di tepi jurang.  Ada juga mahasiswa yang meresahkan terkait fasilitas yang sering dipakai pihak luar Unnes.

Kami lalu menghubungi dosen yang mengajar di Unnes Ngaliyan sekaligus juga mengajar di Unnes Sekaran. Tujuanya untuk membandingkan Unnes di Sekaran dan di Ngaliyan. Selanjutnya Umar  Samadhi lah yang kami temui.

Umar menjelaskan bahwa kurangnya penegakkan konservasi di Unnes Ngaliyan karena kurang tegasnya pimpinan dalam menegakkan Konservasi. Umar menambahkan bahwa Konservasi bukan hanya masalah menanam pohon, tetapi konservasi masih banyak bentuknya.

”Konservasi yang dilakukan Unnes belumlah menyeluruh. Masih setengah-setengah,” terang Umar.

Umar melanjutkan, bahwa budaya masyarakat Indonesia adalah dari atas ke bawah. Budaya inilah yang menjadikan  dibutuhkannya ketegasan dan aksi nyata dalam menjalankan konservasi.

Muhammad Syahsudin Baharsyah yang akrab di panggil Bahar menanggapi masalah Unnes di Ngaliyan.

”Unnes di Ngaliyan memiliki lahan yang sedikit sehingga parkir ada di mana-mana”, tutur Bahar.

Menurut Bahar, minat jalan kaki mahasiswa di Ngaliyan masih rendah, karena kos-kosan mereka jauh. Bahar mengakui pembuangan sampah di jurang adalah tindakan yang dilarang.


”Tidak adanya tempat pembuangan serta pengolahan sampah yang memadailah yang memaksa sebagian orang untuk membuang sampah ke jurang,” ungkapnya. (Aziz Imron)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Konservasi yang Masih Setengah-Setengah"

Posting Komentar