Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 3 AKHIR)


Perangkat Desa Tak Bergerak
Bicara mengenai peraturan, Muntari, Kepala Desa Sekaran mengonfirmasi tidak adanya wewenang pengaturan retail modern dari desa. “Kami ikut peraturan pemerintah kota,”ujarnya.

Muntari lebih memandang fenomena gerai modern ini dari dua sisi. Ia mengaku setuju adanya gerai modern karena dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Tetapi harus ada penyesuaian dengan lingkungan, “Jika sudah ada ya jangan di tambah lagi. Yang belum ada saja agar kebagian semua,” tutrnya. Dia juga menambahkan, “Kita negara hukum, ya aturannya dipakai. Menolak pasar modern berarti ya melanggar HAM.”

save kelontong
 Pemerintah Kota Semarang menerapkan batas pembangunan pasar modern berjarak 500 hingga 2.500 meter dari pasar tradisional. (foto dan caption; Tribun jateng )
Dilihat dari perkembangan jumlah masyarakat desa Sekaran, menurut Muntari retail modern tidak mengurangi pendapatan pedagang lokal. Namun hal ini bergantung masing-masing pribadi yang manilai. “Dulu yang jualan sedikit, yang beli sedikit. Tapi sekarang yang dagang banyak, yang beli juga banyak.”

Ketika ditanya mengenai kasus sengketa Indomaret di Gang Sitanjung, Muntari mengungkapkan dulu pernah ada kasus serupa yang berhasil diselesaikan dengan kesepakatan masyarakat. Sama, perkara pembukaan gerai Indomaret baru itu pun diselesaikan dengan musyawarah dan mediasi kekeluargaan. Terlaksana tiga kali mediasi di kantor kelurahan dan sekali di kantor kecamatan yang menghasilkan keputusan fiinal berupa sanksi penutupan selama satu bulan.

Melalui Sekretaris Desa Sekaran Kusniyati, terkuak bahwa Bowo, pemilik tanah yang bekerja sama dengan pihak Indomaret mendaftarkan tokonya dengan keterangan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk kos dan ruko, bukan dengan izin khusus.

Itu sebabnya pedagang lokal dan masyarakat tidak tahu. Mereka tahu ketika retail sudah terisi barang-barang dan plang yang ia dirikan bertuliskan Indomaret. Lantas, siapkah masyarakat Indonesia menghadapi pasar bebas ASEAN 2015? Bila usaha menengah ke bawah tak mendapatkan naungan yang jelas? (Tim Liputan NuansA)

Baca Sebelumnya...
Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 1)
Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 2)


Tulisan diatas pernah dimuat di TABLOID NUANSA Mahasiswa Unnes Edisi 133 tahun 2014. UnnesNET hanya mempublikasikan ulang tanpa mengedit.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 3 AKHIR)"

Posting Komentar