Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 2)


Unnes Menutup Telinga

Masalah ini juga menjadi perhatian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unnes dan Persatuan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi). Mereka pula lah yang turut menyelenggarakan diskusi dan pertemuan antar pemilik retail modern dan anggota paguyuban.

Sementara kampus Unnes yang memiliki tujuan tri darma, salah satunya yakni pengabdian masyarakat tak nampak batang hidungnya untuk turut berembug atau menentukan sikap untuk menyelesaikan. Ironi, jarak kampus dengan pendirian retail tak lebih setengah kilometer.

Senada dengan Afrokhi, Giarto, pemilik Toko Banaran yang juga senior dan penasehat paguyuban mengaku tidak anti terhadap retail modern. Dia pun tak menampik kenyataan adanya retail modern memengaruhi pemasukan pedagang lokal. “Efeknya bukan saja pedagang, toko kecil penjual pulsa saja kena dampaknya.”
Disalah satu warung kelontong di Banaran masih menjadi tujuan warga sekitar untuk berbelanja
Mantan aktivis kampus IKIP Semarang 1985 itu menuturkan bahwa ada toko yang mengalami penurunan pendapatan bahkan sampai gulung tikar. Seperti toko Riskia yang dulu omsetnya bisa sampai 10 juta, sekarang mengejar 3 juta saja berat. “Dimana pun mereka pasti terjadi perubahan yang signifikan pada lingkungan itu,” terang Giarto.

Menurutnya, perlu ada proteksi khusus dari perangkat desa. “Bisnis itu yang kuat yang menang,” ujarnya. “Seperti kehidupan di hutan belantara, saling membunuh. Oleh karena itu, jika pedagang kecil tidak mendapat proteksi ya tinggal tunggu waktu (matinya) saja,” tambahnya.

Kenyataannya, masyarakat kini mulai lebih nyaman berbelanja di retail modern. Hal itu tak lepas dari sistem pemodalan, strategi, dan manajemen yang diterapkan di sana. Dengan modal besar, retail modern dapat membeli produk berskala besar pula sehingga harganya bisa murah. Selain itu, 4P (Product, price, place, dan promotion) pada marketing mix  juga dimilikinya.

“Product jelas mereka punya. Dari layanan beli pulsa sampai apapun ada. Price pastinya lebih murah walaupun itu dalam ‘tanda petik’. Tempat sudah pasti srategis. Promosi, lengkap dari media cetak, elektronik, segalanya punya,” tutur Giarto. Pelayanannya juga belum bisa dibandingkan dengan pedagang lokal karena tempatnya dingin, terang, penjualnya cantik, serta barangnya bisa memilih sendiri.

Giarto, mewakili suara hati pedagang lokal Sekaran mengaku hanya mencoba konsisten sebisanya melengkapi produk. Persoalan harga masih bisa bersaing, tapi kalau promosi tidak bisa. “Itu pun kami omsetnya tidak bisa setinggi mereka, datar saja,” ujarnya. Dalam hal ini ia tak menyalahkan konsumen,“Yang salah ya pemerintah daerah karena tidak mengatur dengan baik.”

Lebih lanjut, Giarto mengungkapkan bahwa fenomena ini kontradiktif dengan program pemerintah daerah yang cenderung mendorong masyarakat berwirausaha, berswasta, berswasembada mencari pangan. Di satu sisi membiarkan kaum kapitalis datang. Inilah yang menunjukkan ketidakkonsistenan regulasinya.

Menurutnya, pihak paguyuban sudah pernah mengajukan permintaan kepada pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang jelas mengenai persoalan ini, namun sampai saat ini belum ditindaklanjuti. Dia juga berpendapat bahwa seharusnya cukup ada satu retail modern di suatu daerah, “Lha wong satu saja, meski jauh konsumen tetap lari ke sana, iya kan?” imbuhnya.
Bersambung PART 3

Baca Kelengkapanya...
Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 1)
Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 3)


Tulisan diatas pernah dimuat di TABLOID NUANSA Mahasiswa Unnes Edisi 133 tahun 2014. UnnesNET hanya mempublikasikan ulang tanpa mengedit.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 2)"

Posting Komentar