Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 1)


Lepas isya, tartil masih merdu berkumandang. Lamut-lamut suaranya berasal dari sebuah masjid. Lalu-lalang orang dan kendaraan ramai melewati jalan di depan toko Manba yang terletak di pertigaan Sekaran, Gunungpati.

Di seberang jalan nampak motor dan mobil memenuhi parkiran sebuah retail modern. Tak menunggu lama setelah kendaraan tersebut keluar hadir kembali silih berganti. Di toko Manba yang menyediakan barang keperluan sehari-hari dengan pemilik Afrokhi justru memperlihatkan kondisi yang paradoks. Sesekali ada satu dua motor yang mengambah pelataran toko tersebut.

Duduk bersandar di kursi yang sengaja ditata untuk memanjakan pengunjungnya, Afrokhi menghela napas panjang. Ia salah satu pedagang retail lokal daerah Sekaran. Ia tergabung dalam paguyuban pedagang retail lokal Sekaran. Dia juga lah orang yang ditunjuk sebagai ketua koordinasi. Pria paruh baya berkumis tipis itu menuturkan bahwa konon, adanya paguyuban tersebut dilatarbelakangi oleh kecemasan terhadap pendirian retail modern pertama di daerah Sekaran sekitar tahun 2003 silam.
Pak Afrokhi terlihat menunggu pelanggan datang ke toko kelontongnya
Dengan beranggotakan sebagian besar pedagang retail lokal, paguyuban tersebut mencoba menyuarakan kegelisahan serta persaingan yang tidak imbang antara retail modern dengan retail tradisional. Hal ini dilihat dari manajemen sistem pengelolaan, tempat, sampai pelayanannya. “Sekarang kan dunianya modern, pembeli cari yang lebih enjoy,” tutur Afrokhi. “Ya, gimana? Kita hanya bisa bertahan, seperti saya ini, buka sampai jam setengah 4 pagi,” lanjutnya.

Fenomena menjamurnya retail modern telah menimbulkan kekhawatiran pengusaha retail tradisional, terlebih di daerah Sekaran. Sebagaimana yang terjadi beberapa bulan lalu, sengketa pendirian retail modern (indommaret) baru di Gang Setanjung berakhir dengan penutupan sementara. Penutupan tersebut tak lepas dari peran paguyuban. Namun, tak lama berselang, minimarket tersebut kembali buka dengan nama baru.

Alasan penutupan secara paksa minimarket tersebut yakni cabangnya berdiri kurang dari 2.5 kilometer. Padahal, dalam perjanjian sudah jelas jika pihak paguyuban dan pihak retail modern baik Indomaret maupun Alfamaret telah menandatangani nota kesepahaman sebagai jalan tengah penyelesaian sengketa tahun 2009. Salah satu poin dalam nota kesepahaman tersebut adalah kesepakatan bahwa pihak retail modern tidak akan menambah gerai baru dalam radius 2,5 km dari gerai yang sudah ada. Begitu, pemilik gerai mengelabuhi dengan tetap membukanya dan mengganti dengan nama baru.

Afrokhi menilai retail modern sangat memberatkan pedagang lokal. Bahkan rata-rata omset yang dihasilkan pun bisa turun sampai 50 persen. Maka setelah mengetahui akan dibangun retail modern, paguyuban mengambil langkah. Mereka mendatangi kantor kelurahan untuk meminta kejelasan.
Sebagai pihak yang ikut andil dalam kesepakatan itu, paguyuban pedagang lokal tidak dimintai izin dalam pendirian gerai baru Indomaret. Perkara inilah yang menyulut kekesalan warga dan anggota paguyuban. “Lha minta izinnya dari masyarakat yang tidak jualan, ya mereka iya-iya saja,” ungkap Afrokhi. Setelah meminta bantuan perangkat desa baru lah dilakukan mediasi antara pihak paguyuban dan perwakilan retail modern. Sebelumnya, bahkan sempat terjadi unjuk rasa di depan Indomaret tersebut.

Baca Kelanjutannya; Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 2)

Tulisan diatas pernah dimuat di TABLOID NUANSA Mahasiswa Unnes Edisi 133 tahun 2014.
#savekelontong


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 1)"

Posting Komentar