Napas Perekonomian Warga Sekaran Unnes (PART 2 AKHIR)


Investor Merajalela

Kondisi yang perlu diberi catatan besar yakni banyak investor dari luar Sekaran dan sekitarnya untuk mendirikan retail modern, tempat makan, dan kos-kosan di daerah sekitar Unnes. Sehingga timbullah kecemburuan sosial pada masyarakat setempat. Investor berani dengan modal yang besar, begitu sebab spekulasi keuntungan yang besar pula. Sementara warga setempat tak cukup nyali untuk beradu saing. Hanya orang-orang dengan kekuatan lebih yang masih tetap bertahan di tengah sulit seperti ini.

Nurjannah Rahayu K, dosen Ekonomi Pembangunan Unnes mengatakan Pemerintah seperti memilki dua mata pisau. Hal ini dikarenakan dalam satu sisi pemerintah berusaha mengembangkan pasar tradisional dengan merevitalisasi pasar. Tetapi, juga dengan tangan terbuka antusias terhadap retail modern. “Seharusnya ekonomi yang mengikuti hukum, bukan hukum yang mengikuti ekonomi,” tegasnya.

Perkembangan Unnes yang cukup pesat membuat banyak investor masuki sekaran
Dia menyatakan pemerintah harus dengan tegas membatasi pembangunan retail modern dalam satu kawasan khususnya kawasan Unnes, mengontrol IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dalam kawasan Unnes. “Pihak investor jangan hanya memikirkan motif ekonomi saja. Sedangkan konsumen, apabila merespon keberadaan retail modern secara biasa maka investor juga tidak akan terlalu antusias dalam membangun retail modern tersebut,” katanya.

Kondisi yang disayangkan pula ketika kampus dan perangkat desa tak melakukan tindakan untuk menyikapi permasalaha tersebut. Kampus diam menutup telinga, sementara perangkat desa sibuk mengurus hal-hal administratif. Pertanyaannya, sudah memberikan kemanfaatankah Unnes berada di tengah warga Sekaran selain hanya hal-hal yang simbolik? Apakah warga sekitar turut dibekali pengetahuan untuk tetap bertahan dalam kondisi seperti itu?

Sebuah studi yang dilakukan Arif Novianto peneliti politik di Buluksumur Empat Yogyakarta mengatakan studi pasar tradisional tidak memiliki ciri khas komoditas tertentu dan pengelolalan yang modern. Jadi, terobosan kebijakan dari pemerintah untuk memodernisasi dan memberdayakan pasar rakyat serta membatasi kehadiran pasar retail modern menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sebab pasar rakyat adalah napas perekonomian nasional.

Selama ini Unnes belum memberikan kontribusi yang nyata dan berjangka panjang terhadap permasalahan yang muncul. Kampus tak lebih membranding citra konservasi di dalam dan luar secara pragmatis. Bukti salah satunya penanaman pohon yang dilakukan ribuan dan secara massal tak ada pengontrolan lebih lanjut. Selesai menanam, sudah ditinggal begitu saja. Pengabdian masyarakat yang seperti apakah yang dilakukan dosen sebagai tugas tri darma perguruan tinggi? Relevankah dengan dosen-dosen yang sedang mengejar gelar hingga ke luar negeri bertahun-tahun? Susi, Eta

Baca dulu berita sebelumnya;

Tulisan diatas pernah dimuat di TABLOID NUANSA Mahasiswa Unnes Edisi 133 tahun 2014.
#savekelontong

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Napas Perekonomian Warga Sekaran Unnes (PART 2 AKHIR)"

Posting Komentar