Napas Perekonomian Warga Sekaran Unnes (PART 1)


Universitas negeri semarang telah berdiri sejak 1965, yang dulunya bernama Institute Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Semarang. Berdasarkan keputusan Presiden Nomer 124 Tahun 1999 IKIP Semarang kemudian bernama univesitas negeri semarang.

Sebelum Universitas Negeri Semarang (Unnes) pindah dari Kelud ke Desa Sekaran Kecamatan Gunungpati, masyarakat Sekaran memenuhi kebutuhannya dengan bercocok tanam. Daerah tersebut juga menjadi salah satu wilyah resapan, sebab berada di dataran tinggi.

Namun, dalam perkembangannya masyarakat Sekaran menjual tanahnya pada Unnes sehingga tak banyak lagi warga yang bercocok tanam. Hal ini terjadi karena Unnes membutuhkan puluhan hektar tanah untuk melengkapi fasilitasnya sebagai perguruan tinggi.

Jalan disekitar gank-gank sekaran sekarang penuh dengan kost-kostan

“Ada harapan dengan dibangunnya Unnes di Sekaran, lapangan pekerjaan untuk masyarakat semakin terbuka lebar. Pekerjaan untuk masyarakat Sekaran akan semakin bervariasi, baik berdagang, membuka toko, usaha fotokopian, maupun kos-kosan,” jelas . Sugiharto, anggota Paguyuban Pedagang Lokal Sekaran.

Seiring berjalannya waktu Afrokhi ketua paguyuban menyayangkan semakin banyaknya keberadaan retai modern seperti Indomaret dan Alfamart. Ia khawatir keberadaannya yang banyak dapat mematikan pedagang lokal. “Saya rasa tanpa Alfamart dan Indomaret, kebutuhan mahasiswa Unnes masih dapat terpenuhi oleh keberadaan minimarket-minimarket lokal,” tandasnya.

Sebuah peribahasa ada gula ada semut menjadi perumpamaan yang cocok dengan kondisi Unnes saat ini. Kampus Unnes ibarat gula yang berada di tengah masyarakat desa yang haus akan pendapatan.

Jika sebelumnya mereka menjadi petani yang tak bisa terprediksikan pendapatannya, kini adanya Unnes menjadi tujuan utama mereka untuk memanfaatkan peluang yang ada. Alhasil menjamur lah retail-retail modern dan kos-kosan yang tak memerhatikan jarak satu dengan yang lainnya.

Masalah demi masalah muncul. Mulai saluran air yang mampet, banyaknya genangan air di mana-mana ketika musim penghujan, sampah yang memenuhi sungai, pencurian, hingga ulah mahasiswa yang tak terkendali.

Baca Lanjutan
Napas Perekonomian Warga Sekaran Unnes (PART 2 AKHIR)
Tulisan diatas pernah dimuat di TABLOID NUANSA Mahasiswa Unnes Edisi 133 tahun 2014.
#savekelontong

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Napas Perekonomian Warga Sekaran Unnes (PART 1)"

Posting Komentar