Hentikan Laju Pendirian Retail Modern!


“Li cucu olong-li cucu olong,” kata Ramadhan Zuhdi Saputro. Beli susu ke Gemolong, katanya sambil merengek pada ayahnya, Dwi Saputro, pegawai di Museum Sangiran, Kalijambe, Sragen. Rama yang waktu itu berusia tiga tahun merengek pada ayahnya supaya dibelikan susu ke toserba terbesar di kecamatan Gemolong, Sragen.

Rama terlihat sudah kecanduan untuk sekadar memiliki kebiasaan pergi ke toserba. Bahkan hanya untuk membeli susu. Padahal jika hanya membeli susu, di warung yang tidak jauh dari rumahnya juga ada. “Memang sudah menjadi kebiasaan Rama ketika menginginkan sesuatu dia minta diajak ke Gemolong. Sekalian refreshing bagi saya juga,” ungkap Saput, sapaan akrabnya ayah Rama.

Terasa kontras memang, jika menilik lebih jauh mengenai sikap yang diambil ayah Rama yang mengiyakan kemanjaan anaknya. Lebih jauh, hal ini akan mengakar pada Rama sebagai kebiasaannya di masa mendatang. Bahwa untuk memenuhi kebutuhan pribadi, mesti mendatangi toserba. Lebih nyaman, puas dan harga pas, mungkin.

Retail modern sudah menjamur tidak hanya diperkotaan bahkan sampai pedesaan (foto; Go Riau)

Di beberapa ratail modern, cukup sering dijumpai anak-anak yang punya kebiasaan berbelanja. Anak-anak yang semestinya menerima pemberian, kini sudah tidak bisa. Mereka semacam punya hak untuk menuntut lebih. Merasa memiliki tingkat konsumsi yang setara dengan orang dewasa.

Maraknya pembangunan retail modern di beberapa pelosok desa, berpengaruh pada budaya lokal yang akan tercipta di masa mendatang. Bahkan pertaruhan yang besar, termaktub pada keraifan lokal yang kina hari makin terkikis. Generasi muda di msa mendatang mungkin sudah tak punya identitas tentang kearifan lokal. Merujuk teori, budaya tidak tercipta dengan sendirinya. Melainkan atas campur tangan manusianya, lebih tepat generasi muda.

Perubahan ini tak ayal perlu ditelisik kembali mengenai kebijakan pemerintah yang memberi izin pembangunan retail modern di beberapa desa. Hal ini mengundang perdebatan bagi pedagang kelontong karena menurunkan omset penjualan. Fenomena ini yang kemudian marak menjadi konflik di tengah sulitnya mencari penghidupan bagi pemilik toko kelontong.

Hal tersebut hanya sedikit gambaran yang ada di sekitar kita. Tak terkcuali di kampus Unnes Sekaran. Berdirinya retail modern baru di sebelah Gang Setanjung, Sekaran baru-baru ini menjadi keresahan bagi pemilik toko kelontong. Beberapa dari mereka yang tergabung dalam paguyuban pedagang lokal Sekaran mengaku resah dan dirugikan.

Mereka menyampaikan keberatan sehingga disepakati nota kesepahaman yang ditandatangani pada 10 Agustus 2009. Salah satu kesepakatan terkait pembatasan pembukaan gerai baru. “Indomaret tidak boleh membuka gerai baru jika masih dalam radius 2,5 km terhitung dari jarak dua gerai yang sudah ada,” terang koordinator paguyuban lokal Sekaran Afrokhi memaparkan isi kesepakatan.

Kemunculan retail modern di kawasan Unnes bermula pada tahun 2008. Sebagaimana penelitian yang dilakukan Nurjannah Rahayu K, dosen Ekonomi Pembangunan Unnes bahwa mahasiswa rata-rata lebih memilih berbelanja di retail modern.

Kenyamanan menjadi alasan klasik yang diutarakan beberapa mahasiswa yang memilih berbelanja di retail modern. Meskipun demikian, lanjut Nurjannah, masih ada beberapa toko kelontong yang bertahan. Mereka menjual bahan-bahan dengan harga yang lebih murah kepada warung makan supaya tetap bertahan.

Rencana penambahan gerai baru Indomaret di Jalan Taman Siswa, Gang Setanjung menimbulkan keresahan pedagang lokal Sekaran. Keresahan tersebut disampaikan dengan mediator Pimpinan Daerah. Setelah protes dilayangkan muncul kesepakatan bahwa pihak pemilik gerai tidak memakai nama Indomaret dan manajemennya. Pemilik gerai, Bowo, meminta maaf kepada pihak yang merasa tersakiti. “Saya benar tidak tahu terkait nota kesepahaman yang telah disepakati 2009 silam,” ungkapnya.

Pemerintah seperti memilki dua mata pisau. Hal ini dikarenakan, lanjut Nurjannah, dalam satu sisi pemerintah berusaha mengembangkan pasar tradisional dengan merevitalisasi pasar. Tetapi, juga dengan tangan terbuka antusias terhadap retail modern. “Seharusnya ekonomi yang mengikuti hukum, bukan hukum yang mengikuti ekonomi,” tegasnya.

Dia menyatakan pemerintah harus dengan tegas membatasi pembangunan retail modern dalam satu kawasan khususnya kawasan Unnes, mengontrol IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dalam kawasan Unnes. “Pihak investor jangan hanya memikirkan motif ekonomi saja. Sedangkan konsumen, apabila merespon keberadaan retail modern secara biasa maka investor juga tidak akan terlalu antusias dalam membangun retail modern tersebut,” katanya.

Mungkinkah kejadian ini hanya akan menjadi angin lalu dan retail modern akan semakin menjamur, bahkan mengakar? Pemerintah punya pekerjaan yang tidak main-main soal ini. Melalui perizinan yang ketat pendirian retail modern. Seperti di Jerman, pemerintahannya sangat tegas. Mereka akan bisa mengerem laju pertumbuhan pemukiman yang membabi buta. Ini yang belum terlihat di Indonesia.

Pertaruhannya jelas, budaya konsumtif generasi mendatang yang hanya percaya pada kemudahan adalah gaya hidup. Sebagimana Rama dan ayahnya, mereka hanyanlah salah satu keluarga yang merasa berbelanja di retail modern sebagai gaya hiudp. Mungkin juga candu.

Selain itu, nasib pedagang kelontong juga mesti diperhatikan. Bisa-bisa mereka gulung tikar di masa tua, karena memiliki toko kelontong adalah pekerjaan sambilan sembari mengisi usia tua.

Baca juga; Pedagang Sekaran, Bertahan di Tengah Derasnya Arus Kapitalisme (PART 1)
Tulisan diatas dimuat Tabloid Mahasiswa Unnes Nuansa Edisi 133 tahun 2014.
#savekelontong


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hentikan Laju Pendirian Retail Modern!"

Posting Komentar