Pembebasan Dipengaruhi Cara Pandang


Oleh : Suyadi (*)


Bagi yang percaya pada kosmologi Jawa, tanah adalah ibu pertiwi. Setiap jengkal berselimut kehormatan dan martabat para pemiliknya. Persoalan tanah berarti persoalan hidup mati, kepentingan, harga diri, eksistensi ideologi,dan nilai. Begitu kira-kira ungkap Svensson.

Cara pandang terhadap tanah mempengaruhi bagaimana proses pembebasan lahan. Tidak bisa begitu saja melepaskan tanah untuk kepentingan umum bagi mereka yang percaya bahwa tanah adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Tanah bukan objek semata.

Apa yang disuguhkan Kompas edisi 10 Maret 2015 pada dua berita di halaman depan dengan judul “17 Langkah Belum Maksimal Terlaksana dan Banyak Proyek Strategis Terbengkalai,” mencoba mengulas persoalan pembangunan infrastruktur di negeri ini. Meski berbeda judul, dua berita tersebut mempersoalkan pembangunan untuk kepentingan umum di cakupan wilayah berbeda yang belum beres. Pertama pada wilayah kota pemerintahan, dan kedua pada rencana pembangunan nasional. Sekalipun banyak hal yang menjadikan proses pembangunan itu belum selesai, ada hal-hal yang menarik untuk dicermati. Setiap pembangunan yand ada, selalu terdapat lahan sebagai dasar pembangunan.

Pembangunan yang digunakan untuk kepentingan umum memang sudah diakomodir tata cara dan prosedur pendapatannya oleh UU Pokok Agraria. Ganti rugipun disiapkan bagi setiap hak yang dialihkan ke kepentingan umum dengan besaran sesuai kesepakatan. Tetapi persoalan di lapangan tak semudah itu, ada hal-hal yang melekat pada tanah yang tak bisa begitu saja dilepaskan oleh pemiliknya. Ganti rugi tidak bisa mengakomodasi.


Images : http : //www.mongabay.co.id


Kepercayaan bahwa tanah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebagai warisan leluhur seolah mengandung nilai imateriil. Pembebasan lahan yang dilakukan oleh pabrik Semen Gresik pada tanah di kaki pegunungan Kendeng Utara misalnya, sampai sekarang masih menghadapi persoalan tanpa kesepakatan. Bagi pemegang hak atas tanah, tanah di kaki pegunungan tersebut selain menyimpan kekayaan sebagai sumber penghasilan juga ada semacam nilai-nilai bercocok tanah dari para leluhur. Ada semacam anggapan bahwa nilai-nilai bertani merupakan warisan leluhur. Mengganti fungsi lahan sama saja menghilangkan nilai-nilai kearifan tersebut.

Minimal ketika pembebasan lahan telah usai dilakukan pada kaki gunung Kendeng Utara akan ada jenis pekerjaan baru bagi para pemilik yang ditinggalkan lahannya. Nilai kearifan bercocok tanah akan hilang.

Persoalan semacan ini akan terus dihadapi pada setiap proses pembebasan lahan. Perbedaan cara pandang akan terus berbenturan. Pandangan tanah sebagai satu kesatuan dengan manusia, berlawanan dengan tanah yang hanya sebagai objek terpisah dari manusia, kaum liberalis.

Tentu akan jauh lebih mudah jika melakukan pembebasan lahan pada orang-orang yang memandang lahan sebagai objek. Persoalan pembebasan lahan hanya berkisah berapa harga yang ditawarkan untuk ganti rugi, tetapi bagi yang memandang tanah adalah dirinya, harus diganti dengan apa?


*Pemimpin Umum BP2M

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pembebasan Dipengaruhi Cara Pandang"

Posting Komentar