Mahasiswa Resah, Ini Jawaban Rektor


BP2M - Banyak pertanyaan atau keluhan yang disampaikan beberapa mahasiswa dalam diskusi pada acara Ngopi Sore: Menyongsong Unnes di Tahun Inovasi (12/03). (baca: Unnes Belum Sempurna (?) )

Beberapa pertanyaan dan jawaban Rektor, secara singkat sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kelanjutan gedung dan Kolam Renang di FIK?
(Rama, mahasiswa Ilmu Keolahragaan, FIK)
Jawaban: Saat ini fokus pada pembangunan dekanat di beberapa fakultas terlebih dahulu, setelah itu baru kembali melanjutkan pembangunan yang harus segera diselesaikan. Terkadang pembangunan yang berhenti sejenak juga karena beberapa sebab. Seperti pembangunan kolam renang di FIK Unnes, karena kontur tanah di Sekaran, juga masalah dana pembangunan yang melibatkan banyak pihak.

2. Mengapa mahasiswa dengan sistem pembayaran UKT tetap dikenai biaya KKL? Bukankah diawal pernah dijelaskan bahwa mahasiswa dengan sistem pembayaran UKT tidak akan lagi dibebani biaya lain seperti KKL, KKN, PPL, dan lain-lain? Jika begini, apa bedanya mahasiswa dengan sistem UKT dengan mahasiswa yang dulu dengan sistem SPP?
(M. Zururudin, Mahasiswa Akuntansi)
Jawaban: Tidak semua program studi mengadakan KKL, dan kalaupun mengadakan, KKL setiap prodi biasanya berbeda-beda tujuan dan pengeluaran biaya. Karena hukum KKL yang sunah itu, maka KKL menggunakan uang pribadi, bukan termasuk yang dibebaskan biaya untuk mahasiswa yang menggunakan sistem UKT. Maka dari itu, saya menghimbau kepada Kaprodi dan jajaran lain yang berwenang, agar KKL diusahakan bisa efektif tanpa harus mengeluarkan banyak biaya dan tidak mesti di tempat yang jauh.

3. Saya melihat, akhir-akhir ini banyak sekali pohon yang ditebang untuk pembangunan suatu gedung, lalu bagaimana nasib hutan di Unnes? Apakah ada ganti pohon atau hutan yang sudah dibuat bangunan?
(Tiwi, Mahasiswa Sastra Perancis)
Rektor Unnes saat menanggapi beberapa pertanyaan mahasiswa (12/3) [Doc. BP2M]
Jawaban: Pembangunan gedung sebagai sarana itu penting. Pohon-pohon yang sudah ditebang untuk dibuat bangunan, sudah memiliki kesepakatan bahwa setiap menebang satu pohon, kontraktor harus mengganti dengan menanam lima pohon baru.

4. Saya mewakili mahasiswa Kristen dan Katolik di Unnes, ingin menanyakan, mengapa di Unnes tidak ada tempat beribadah untuk kami? Padahal Unnes adalah universitas negeri yang multikultural. Bukan hanya milik satu agama tertentu. Kadang kami kesulitan mencari tempat untuk beribadah. Kami harus meminjam ruang tertentu melalui proses yang tidak instan, kadang juga sudah tidak ada lagi ruang yang kosong. Kami berharap, semoga Unnes bisa menyediakan tempat untuk kami beribadah.
(Mahasiswa Unit Kerohanian Kristen)
Jawaban: Warga nasrani di Unnes meski tidak ada 10%, tetapi telah memberi warna dan sangat berarti. Tidak ada mereka, maka ibarat sayur tanpa garam. Namun, masalah pembangunan tempat ibadah, itu akan sulit. Hampir seluruh masyarakat Sekaran itu muslim yang taat. Mereka sulit menerima jika ada tempat ibadah untuk agama lain di Unnes, belum seperti kita yang multikultural, dan mampu menerima perbedaan. Namun, kita tetap harus menghargai mereka. Karena kita adalah pendatang. Untuk usulan tempat ibadah, nanti akan diusahakan membuat ruangan khusus yang digunakan untuk aktivitas beribadah, untuk semua agama tak terkecuali.

5. Suatu hari saya pernah sengaja menunggu di depan gerbang, lalu serombongan mobil masuk Unnes tanpa ada cegatan dari satpam. Setelah rombongan mobil itu masuk semua ke dalam kampus, saya menggunakan motor mengikuti seperti apa yang dilakukan mobil tadi, namun tiba-tiba satpam melarang saya. Terkadang saya merasa tidak fair, dengan peraturan konservasi yang tidak diberlakukan secara merata. Bagaiman konsistensi masalah jam konservasi? Mengapa masih banyak mobil yang dibiarkan masuk?
(Hanendya Disha, Mahasiswa Fisika)
Jawaban: Terkadang mobil yang dibolehkan masuk itu karena beberapa sebab, misal yang membawa barang-barang berat, dosen yang sepuh, dan kondisi yang membuat adanya kelonggaran jam konservasi, seperti hujan, dan sekarang ini banyak pembangunan.

6. Saya mempunyai teman yang kesulitan membayar kuliah, karena dia mendapat golongan UKT yang tidak sesuai dengannya. Pernah melakukan banding UKT, tetapi tidak bisa turun. Padahal teman saya itu benar-benar tidak mampu. Sebenarnya transparansi UKT di Unnes itu seperti apa? Bagaimana prosedurnya?
(Mahasiswa Teknik)
Jawaban: Biasanya ketidaksesuaian penempatan golongan UKT pada mahasiswa tertentu, dikarenakan pada saat mengisi data ada yang kurang atau kesalahan. Jika ingin melakukan banding, bisa melalui tim advokasi fakultas lalu ke Pembantu Rektor II (Bidang Administrasi Umum). Nantinya PR II akan berdiskusi dengan tim, lalu melakukan survey, jika sesuai, maka banding akan diterima. Jika masih belum berhasil banding, mungkin masih ada kekurangan, bisa dicoba banding lagi bila belum puas.

Jika teman-teman mahasiswa masih memiliki pertanyaan, kritikan atau saran yang belum tersampaikan, bisa mengirim sms ke 085725159992 (Smsivitas buletin Express yang terbit dua minggu sekali), atau komentar langsung di kiriman ini. Harapannya dapat membuat Unnes lebih baik lagi. (KDP)





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahasiswa Resah, Ini Jawaban Rektor"

Posting Komentar