Senja di Malam Purnama


salah satu film yang digarap anggota LFUI

Senjania senang menulis. Sebagian besar, ia tulis di media sosial. Perempuan yang nampak anggun dengan rambut panjangnya ini pula mengelola sebuah blog. Tulisannya dianggap ‘seksi’ oleh kawan-kawannya dan nampak hasil perenungan dengan kebulatan pikir yang dalam. Tema feminisme menjadi salah satu topik yang gemar ia tulis.
            
Senja begitu panggilan akrabnya menjadi salah satu mahasiswa di perguruan tinggi. Maka tak pelak ia sering menunjukkan tingkat intelektualitasnya melalui tulisan-tulisannya. Dari hasil perbincangannya dengan kawan satu kamarnya ia mendapat sanjungan. “Cie, yang statusnya banyak di-like orang. Ngomong-ngomong kamu nulis apa sih? Aku nda mudeng,” terang salah satu kawan.
            
Malam ini bulan nampak bulat. Semburat sinarnya pun menerangi lorong-lorong di rerimbunan pepohonan, Kamis (9/10). Laboratorium Film Umar Ismail (LFUI) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang sedang memutar lajar tantjep dengan menampilkan empat buah film garapan anggotanya, salah satu alumni, dan komunitas film dari fakultas ilmu pendidikan. Film pertama yang diputar yakni Welcome to Replubic Iyuh (WTPI). Film ini mengangkat tema lagu genjer-genjer. “Tahu tidak tentang lagu genjer-genjer?” Barangkali generasi 90-an ke sini sudah tak mengenalnya.

Dalam Wikipedia genjer-genjer ciptaan M. Arif yang berkembang sekitar tahun 1942, lagu kesenian angklung. Lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi, kemudian diberi syiar baru seperti dalam lagu genjer-genjer. Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sangsara dibanding sebelumnya. Bahkan ‘genjer’ (Limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikosumsi itik, menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging. Menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 10), upaya yang dilakukan M Arif sesuai dengan fungsi Sastra Lisan, yaitu sebagai kritik sosial, menyidir penguasa dan alat perjuangan.Genjer-genjer dipopulerkan Lilis Suryani dan Bing Slamet di awal tahun 60an. Begini kiranya cuplikan bait pertamanya,

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Himas salah satu personil penggarap WTRI mengaku ingin mengingatkan kembali generasi muda untuk setidaknya tahu. Ternyata dalam forum diskusi tersebut tak banyak yang mengetahui. “Baru pertama kali mendengar, baru tahu, dan tidak pernah dengar,” beberapa jawaban.

Melanjutkan Senja, ia berteman akrab dengan Bara Merah. Mereka sering chattingan. Bara Merah selalu memberi perspektif beda dalam setiap obrolannya. Bisa dibilang otaknya top cer. Tema apapun ia lahap. Dari politik, hukum, feminisme, dll. Senja pun kagum padanya.
            
Bara Merah mempunyai ketertarikan di bidang tari. Ia lelaki luwes yang dapat membawakan berbagai jenis tari dari tari klasik hingga modern. Perempuan-perempuan lainnya tak jarang kalah luwesnya dari Bara. Kondisi di lingkungan kawan-kawan Bara justru menunjukkan kontradiksi. Kawan-kawan Bara merasa risih saat melihat Bara menari. Bahkan banyak yang mencibir dan menggunjingkannya. Entah kalangan perempuan atau pun laki-laki.
            
Runut demi runut, status di media sosial yang ditulis Senja hasil plagiat dari tulisan-tulisan Bara. Senja melakukan copastdari tulisan Bara. Ia, Senja, sedang melakukan pencitraan terhadap dirinya. “Hidup ini hanya ada dua pilihan, peduli atau pura-pura peduli dengan turut memperbincangkannya dan menyebar di media sosial,” tutur Senja yang menjelaskan pada teman sekamarnya setelah mengetahui bahwa tulisannya hasil plagiat.
            
Himas menggarap film ini mengaku masih banyak kekurangan di sana-sini. “Saya masih belajar,” tuturnya. Film WTRI tersebut yang mengangkat tema lagu genjer-genjer banyak hal-hal yang tidak runtut dan tidak sesuai dengan tema yang diangkat. Tema yang diangkat terlalu besar tak sebanding di adegan per adegan. Bahkan judul Welcome to Replubic Iyuh pun patut dipertanyakan. Judul yang terkesan latah tersebut, sayang sekali tak ada satu pun yang mengkritisi. Diskusi berjalan hanya berkutat seputar teknis pembuatan film yang lebih banyak dipertanyakan. Bahkan pembedahan substansi dari naskah yang diangkat pun tak ada satu pembicara yang didatangkan. Pembicara yang hadir yakni Andi alumni BSI dan juga perintis pertama LFUI yang ahli dalam teknis pembuatan film dan Himas sendiri.

Acara yang turut dihadiri Sumartini Ketua jurusan BSI, Suseno Pembina LFUI, dan Sugeng dosen dari FIP. Ketiganya tak sampai rampung ada di antara kawan-kawan yang sedang memutar film hingga akhir sebab kepentingan yang tak bisa ditinggalkan. “Tak ada pemula dan senior dalam menggarap sebuah film. Ia hanya butuh belajar dan terus belajar,” tutup Andi disertai tepuk tangan penonton. DM

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Senja di Malam Purnama"

Posting Komentar