Ternyata Impian itu Masih Ada



http://1.bp.blogspot.com/-lL8AIB3BGPU/Tzx17XLwkaI/AAAAAAAAARU/Rc-Hi3kc8Uc/s1600/impian.jpg

Oleh: Susi Lestari
Beberapa mahasiswa tampaksibuk mempersiapkan acara Halal Bi Halal Lembaga Kemahasiswaan dan Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang di halaman parkir sebelah gedung PKMU, Jumat (15/8).
Tamu undangan mulai berdatangan. Selanjutnya, mereka duduk di atas tikar yang telah disiapkan oleh panitia. Dua buah bangku di tengah panggung besar masih kosong menanti pembicara. Di samping panggung, pembawa acara membacakan nama narasumber yang mengisi acara inti.
Tidak tampak sesuatu yang istimewa pada sosok Retno Ningrum Hidayah, yang hadir sebagai narasumber. Logat Semarangnya begitu kentara ketika dia mulai bercerita tentang pengalamannya kuliah di luar negeri. Tepatnya di University of Huddersfield, United Kingdom (UK).
Awalnya, terasa berat karena baru kali pertama tinggal jauh dari keluarga. Tetapi lama-kelamaan bisa beradaptasi dengan baik,” katanya ketika mulai diwawancara saat sesi makan bersama.
Retno bercerita bagaimana dia menjalani puasa dalam suhu minus 40 0C, merasakan perbedaan iklim akademis antara universitas di UK dengan Indonesia, “Di sana (Inggris) perpustakaan buka 24 jam selama tujuh hari. Fasilitas penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga sangat lengkap, sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif, tuturnya.
Meski senang bisa memperolehkesempatan untuk melanjutkan S2 dan dibiayai oleh DIKTI, Retno mengatakan bahwa kuliah di luar negeri tidak seenak yang sering dipikirkan kebanyakan orang. Menurutnya, baik menjalani proses seleksi maupun saat menempuh studi, sama-sama butuh perjuangan. Sehingga membutuhkan kematangan persiapan fisik dan mental.
Retno sempathampir putus asa untuk menggapai impian kuliah di luar negeri. Ternyata impian itu masih ada padanya meski dua tahun menunggu agar bisa disetujui “Tetapi memang sangat sulit. Sampai akhirnya tahun 2013 pengajuan beasiswa saya diterima DIKTI,ungkapnya.
Kendala sempat muncul ketika Retno tidak diberi izin oleh suaminya. “Maklumlah, kami baru dua bulan menikah. Tetapi pada akhirnya suami mengizinkan meskipun dengan berat hati,” ucap alumni Unnes angkatan 2006 itu sembari menyantap soto di depannya.
Retno menilaimahasiswa Indonesia yang mempunyai impian untuk kuliah di luar negeri itu banyak, tetapi sedikit yang dapat mewujudkannya. “Kuliah di luar negeri tidak boleh jika hanya ikut-ikutan saja, apalagi sekadar meningkatkan prestise,” tegasnya. Niatnya harus murni, lanjut Retno, untuk menuntut ilmu dan kalau sudah kembali ke tanah air tidak boleh sombong. Pengalaman Retno sering diceritakan ke mahasiswanya di Fakultas Ekonomi Unnes.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ternyata Impian itu Masih Ada"

Posting Komentar