Supriadi Mundur dari Bursa Calon Rektor


Salah satu calon Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Supriadi Rustad menyatakan mundur dari bursa pemilihan rektor Unnes. “Ini murni dari diri saya sendiri. Demi nama baik Unnes,” ungkapnya. Pilihan itu diambil, lanjut Supriadi, supaya Unnes menjadi kampus yang damai.
Menanggapi pengunduran diri lelaki yang menjabat Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemendikbud itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, keputusan tersebut dimaknainya sebagai kesadaran terhadap aturan yang berlaku. Menurut Fathur, pilrek merupakan bagian dari tugas kelembagaan yang harus dilaksanakan sesuai aturan dan berkeadilan.
“Pilrek akan dilanjutkan secara damai serta mengikuti mekanisme yang sesuai dengan arahan Dirjen Dikti,” terang Fathur yang juga calon rektor pada Pilrek Unnes 2014-2018.
Sebelumnya, telah ditetapkan tiga calon Rektor Unnes, yaitu Fathur Rokhman, Supriadi Rustad dan Suwito Eko Pramono. Ketiganya telah mengajukan paparan visi dan misi ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Namun, pencalonan Supriadi diperdebatkan terkait persyaratan yang mesti dipenuhi salah satunya, calon rektor adalah dosen PNS aktif. Proses pemilihan sempat tertunda pada awal Juni lalu disebabkan perdebatan aturan tersebut. Hingga akhirnya, Senat Unnes memutuskan Supriadi memenuhi syarat calon rektor.
Setelah pemilihan bakal calon rektor, senat mengajukan surat ke Kementerian. Pada tahap akhir, Mendikbud memperoleh hak suara sebesar 35 persen, sedangkan Senat Unnes 65 persen. Sembari menunggu jawaban, berbagai dinamika terjadi. Salah satunya, terjadi saling lapor ke Polrestabes Semarang.

Pemilihan Ulang
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Unnes Prasetyo Listiaji menegaskan, mahasiswa menuntut pemilihan diulang. Berdasar aturan senat, lanjut Prasetyo, pemilihan berlangsung dengan lebih dari dua calon tetap.
Menurutnya, ada dua hal yang bisa dilakukan sesuai aturan senat. Pertama, pengulangan dari awal, yaitu penjaringan. Kedua, pengulangan dari penetapan bakal calon rektor. “Pilihan pertama, akan lebih lama prosesnya, tapi membuka peluang lebih besar. Sementara pilihan kedua, lebih hemat waktu, tenaga dan biaya. Tapi kesempatan dosen Unnes memasuki bursa pencalonan lebih sempit,” terangnya.
Pihaknya menuntut, pada 8 November 2014 sudah ada rektor terpilih yang siap dilantik. “Kami perlu hasil pemilihan yang baik, tentunya harus muncul dari proses yang baik pula,” tandasnya.
Kepala Humas Unnes, Amir Sisbianto mengatakan, sampai saat ini, belum ada keputusan senat, pemilihan akan dilanjutkan dengan cara bagaimana. “Tentunya membutuhkan rapat-rapat untuk memutuskannya,” kata Amir.
Pilrek Unnes dijadwalkan telah berlangsung 26 Juni silam. Namun karena adanya berbagai dinamika pada pilrek tersebut, hingga kini pemilihan rektor periode 2014-2018 belum dapat digelar. (diolah dari berbagai sumber)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Supriadi Mundur dari Bursa Calon Rektor"

Posting Komentar