Kesederhanaan Memaknai Kehidupan


Oleh Muhammad Irkham Abdussalam


Tulislah hidup dengan sederhana. Foto : DM
Kurangi ketakutan, perbanyak pengharapan; kurangi makan, perbanyak mengunyah; kurangi merengek, perbanyak bernafas; kurangi bicara, perbanyak berpendapat; kurangi kebencian, perbanyak cinta. Maka, semua hal baik menjadi milik Anda.

Sebuah adagium dari Swedia itu menyentakku. Mengusik segala penat dan lelah usai seharian tak jemu-jemu beraktivitas. Jika ditinjau lagi, peribahasa itu mengungkap sebuah integrasi terhadap model kehidupan zaman sekarang. Saat ini, dunia telah berubah menjadi serba cepat. Hingga pada detail-detail kehidupan yang dijalani, terkadang secara tidak sadar kita tak benar-benar memperhatikan dan menikmatinya.
Menelaah secara fisik, bumi tetap berotasi selama 24 jam, dan masa revolusinya selama 365/366 hari. Namun, dalam keseharian kehidupan manusia, kompleksitas tuntutan hidup dan capaian hasil membangun jurang yang menganga antara harapan dan kenyataan. Mengutip kata-kata Thomas Dewar, “Pikiran seperti parasut, ia hanya berfungsi saat terbuka.” Lalu pada era modern: Apakah pikiranku/mu/ kita semakin terbuka atau justru malah menciut?
Dangkalnya pemaknaan hidup mulai mewabah dalam dentang waktu yang terus melangkah ke depan. Di era modern, pemaknaan atas hakikat manusia sebagai makhluk sosial semakin susut. Pelunturan arti kearifan lokal, hingga perhatian khusus pada keseimbangan alam pun mulai dikesampingkan. Menghela nafas, dunia benar-benar kehilangan para filsuf. Generasinya tak bertuah lagi.
Terbesit sebuah ingatan tentang pertanyaan “Mengapa manusia memiliki dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, dan satu mulut?” Jika saya berangan-angan dan mencoba menerka-nerka jawaban atas pertanyaan itu, maka setiap manusia diberi itu untuk menikmati kehidupan menghadapi kehidupan dengan berabai unsurnya.
Mulut, menurut saya, selalu menyesuaikan terhadap ekspresi yang mewakili emosi dan curahan pikiran. Entah mengapa, kebanyakan mulut lebih mampu mengubah dunia daripada telinga, mata, hidung, atau bagian tubuh yang lain. Maka dengan bicara, terkadang saya tak mau kalah walau susah untuk membangun dasar opini yang kuat. Bagaimana dengan dua mata, dua telinga, dan dua lubang hidup pada diri manusia?
Saya pikir, Tuhan yang menciptakan manusia, memberikan sebuah kesempatan pada setiap manusia untuk lebih peka dan menikmati kehidupan melalui bagian-bagian dari tubuh itu. Mendengarkan musik, melihat lukisan, menghirup udara pagi di puncak bukit. Maka, mulut akan terdiam dan hati yang akan terbuka, mencerna secara perlahan dan menikmati hal-hal sederhana itu.
Memaknai hidup dengan detail-detailnya, memperlambat ritme aktivitas hidup supaya mampu menikmatinya. Melihat sekeliling, mengamati dengan penuh penghayatan. Hidup bicara soal proses dan hal kecil dalam hidup. Sebagai misal menulis catatan harian, menikmati antrian, memberi sesuatu pada mereka yang membutuhkan walau hal itu kecil, menyapa, berjabat tangan, membaca, dan sebagainya. Ini penting dalam rangka membangun jembatan menuju pemaknaan hidup dan kehidupan. Saya masih percaya sesuatu tak pernah menjadi besar tanpa sesuatu yang kecil. Memaknai hal kecil sama halnya membangun hal besar. Membangun hal baik pada diriku/mu/kita.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesederhanaan Memaknai Kehidupan"

Posting Komentar