Terbentur Fasilitas dan Aturan yang Tidak Tegas



Sejak menyatakan diri menjadi Universitas Konservasi 12 Maret 2010 silam, Unnes kian hijau. Unnes berpoles semakin cantik dengan tatanan taman yang apik dan menarik. Bahkan karena sebagian besar wilayah Unnes rindang, menjadi tempat yang cocok untuk rekreasi di universitas konservasi. Itulah gambaran secara fisik. Namun, konservasi tidaklah dipandang dari fisik saja, sebagai konsekuensi menjadi Universitas Konservasi, dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) Unnes mengacu pada prinsip-prinsip konservasi.

Prinsip-prinsip itu antara lain mengenai perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari terhadap sumber daya alam, lingkungan, seni, dan budaya. Dalam penerapan universitas konservasi ini ditopang oleh tujuh pilar konservasi. Ketujuh pilar tersebut adalah pertama konservasi keanekaragaman hayati. Kedua,arsitektur hijau dan sistem transportasi internal. Ketiga, pengelolaan limbah. Keempat, kebijakan nirkertas. Kelima,energi bersih. Keenam, konservasi etika, seni, dan budaya. Ketujuh, kaderisasi konservasi.

Fakta di lapangan, ketujuh pilar konservasi tersebut belum sepenuhnya diketahui oleh sivitas akademika Unnes. Jajak pendapat Express Senin (24/3) memperoleh data bahwa 57 persen mahasiswa tidak tahu tujuh pilar konservasi. Sedangkan 41, 7 persen mahasiswa menjawab tahu. Sisanya 1,3 persen abstain.

Tidak hanya sebagian besar mahasiswa yang tidak tahu mengenai tujuh pilar konservasi. Sejumlah 74,3 persen responden berpendapat pejabat dan karyawan Unnes belum berperan dalam pelaksanakan Unnes Konservasi. Perilaku pejabat dan karyawan Unnes memperlihatkan tidak mendukung Unnes Konservasi antara lain adalah mengunakan kendaraan bermotor masuk ke wilayah kampus, merokok dan penggunaan pendingin ruangan (AC) di ruangan pejabat. Responden juga berpendapat, ketidaktegasaan peraturan menjadi kendala dalam pelaksanaan Unnes Konservasi. Sedangkan 24,5 persen responden berpendapat pejabat dan karyawan Unnes berperan dalam pelaksanaan Unnes Konservasi. Perilaku tersebut nampak ketika pejabat dan karyawan yang menggunakan sepeda atau berjalan kaki ke kampus. Sisanya 1,1 persen memilih abstain.

42,97 persen mahasiswa berpendapat indikator yang paling dominan dalam pelaksanaan Unnes konservasi adalah banyak pohon. Namun menurut 42,16 persen responden, bebas asap rokok adalah indikator paling dominan dalam pelaksanaan Unnes Konservasi.Sedangkan 15,67 persen responden berpendapat, penelitian mengenai lingkungan menjadi indikator paling dominan. 7,62 persen manjawab green building. 1, 27 persen menjawab green transportation.

Semua Sivitas adalah Kader Konservasi

Prinsip-prinsip konservasi tidak hanya menjadi jargon saja, namun penerapannya dilakukan oleh sivitas akademika. Menurut Kepala Devisi Kader Konservasi di Bagian Pengembang Konservasi Unnes, Kusmuriyanto, semua sivitas akademika Unnes adalah kader konservasi. “Kader konservasi bertanggung jawab terhadap diri masing-masing dan peduli terhadap lingkungan menjadi tugas masing-masing secara bersama-sama,” ungkapnya ketika ditemui di ruangannya, Selasa 25/3.

Selain pengetahuan mengenai konservasi pada kader konservasi, jajak pendapat Express juga mendapat data mengenai moda transportasi yang digunakan mahasiswa. Transportasi yang sering digunakan untuk ke kampus 46,8 persen responden menggunakan sepeda motor. 46,5 persen berjalan kaki, 3,4 persen angkutan umum, 2 persen mobil, 1,3 persen bis Unnes. Salah satu fungsi kebijakan parkir terpusat diberlakukan untuk mengurangi kendaraan motor masuk ke wilayah kampus. Namun, berimbas pada kemacetan terpusat seperti wilayah jalan tembus menuju FIK dekat lapangan atletik (Express, 5/3) dan wilayah parkir terpusat yang lain.

69 persen responden berpendapat fasilitas di Unnes tidak menunjang kenyamanan pedestrian (pejalan kaki). Sedangkan 30 persen responden berpendapat fasilitas di Unnes menunjang para pedestrian. Sisanya 1 persen abstain. Meskipun sebagian wilayah sudah rindang, seperti di wilayah FMIPA dan Perpustakaan pusat, namun jarak yang jauh dan belum semua akses jalan antar fakultas rindang dengan pepohonan menjadi faktor ketidak nyamanan bagi pedestrian. Selain itu, kondisi trotoar menjadi salah satu ketidaknyamana. Fasilitas selain bus kampus yang nyaman, responden juga berpendapat perlu disediakan sepeda untuk pedestrian dengan syarat peminjaman yang jelas.

Kader Konservasi Minim Aksi

Pendapat mengenai perlu tidaknya melanjutkan Unnes Konservasi, 91 persen responden menjawab perlu dilanjutkan. Salah satu alasannya adalah, konservasi menjadi salah satu ikhtiar dalam mengurangi efek global warming untuk generasi mendatang. Namun 7, 2 persen menjawab Universitas Konservasi tidak perlu dilanjutkan, salah satu alasannya adalah tidak ada aturan yang tegas mengenai peraturan  dalam menjalankan Universitas Konservasi dan tidak semua sivitas berkomitmen dalam menjalankannya. 1,8 persen responden abstain.

Agaknya timpang jika wajah tak secantik kelakuan bukan? Unnes Konservasi bukan hanya untuk memperindah fisik, tapi memperindah perilaku sivitas di dalamnya menjadikan konservasi menjadi kebutuhan bersama. Kusmuriyanto menambahkan, kader konservasi adalah semua civitas akademika Unnes. Kaderisasi meliputi tiga model yaitu sosialisasi, pelatihan, serta pendidikan khusus yang diintegrasikan melalui tiga jalur. Pertama, mahasiswa baru sebagai kader pemula melalui program PPA serta melalui mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Kedua, mahasiswa aktivis baik di Lembaga Kemahasiswaan (LK) maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk setidaknya memuat visi yang sejalan dengan visi unnes sebagai universitas konservasi. Jalur ketiga, kader konservasi khusus.

Penilaian terhadap dijalankannya prinsip Universitas Konservasi tidak hanya dilihat dari fisik saja. Kader-kader khusus Unnes Konservasi terbentuk, seperti gabungan UKM Minat dan Kegemaran (Mahapala, Pramuka, KSR, SAR), laskar hijau di FIP, dan komunitas-komunitas hijau lainnya di Unnes. Dalam mendukung pelaksanaan Unnes Konservasi, kader-kader khusus tersebut memiliki program-program konservasi. Namun perlu juga kesadaran setiap kader konservasi yang meliputi seluruh sivitas akademika Unnes dalam pelaksanaan Universitas Konservasi tersebut.

Salah satunya tindakan nyata meskipun kecil tapi sangat bermakna. Seperti membuang sampah pada tempatnya. Kesadaran ini masih lemah dengan dilihat dari setiap kegiatan sampah (kardus, plastik, dll) berserakan tidak ada pertanggungjawaban. Itu ketika ada kegiatan di kampus, belum lagi menengok keadaan di kos-kosan. Berapa sampah yang menumpuk di setiap gang. Selain itu, hemat energi bisa dilakukan dengan mencabut setiap aliran listrik jika tidak terpakai. Mematikan lampu/kipas angin setelah selesai perkuliahan. Mengenai konservasi etika, keramahtamahan sivitas akademika. Keindahan fisik akan semakin menarik dengan keindahan perilaku yang cantik.

Mantan pendamping UKM Mahapala ini menambahkan, hidup bertanggung jawab untuk menjaga serta memelihara lingkungan disekitarnya agar tetap nyaman dan lestari. Pembicaraan diakhiri dengan senyuman. (Tim Litbang Express)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terbentur Fasilitas dan Aturan yang Tidak Tegas"

Posting Komentar