Soroti Wajah Pendidikan Indonesia


Berbagai karut marut yang menghiasi wajah pendidikan Indonesia mendapat sorotan. Setidaknya, terdapat lima hal yang menjadi pokok perhatian dalam orasi yang disampaikan M. Fazar, wakil ketua BEM FIP dalam Aksi Peduli Pendidikan. Orasi tersebut dihadiri oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) se-FIP dalam rangka memperingati Hardiknas, Jumat (2/5).
Pertama, kebijakan yang tidak nyata dari pemerintah. Pemerintah hanya melakukan berbagai macam uji coba seperti kurikulum terbaru. Kedua, ketidakpercayaan pemerintah pada progam PPG. Ketiga, karut marut Ujian Nasional (UN). UN yang seharusnya menjadi tolak ukur namun justru membingungkan. Keempat, tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Kelima, terjadinya kejahatan dan pelecehan seksual di dunia pendidikan. Solusi untuk kasus tersebut, dengan melakukan spesialisasi program berkepanjangan dengan perubahan kabinet bukan sekedar uji coba, terangnya.
Selain diwujudkan melalui orasi, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menuliskan aspirasinya dalam papan putih yang disediakan oleh panitia. Papan tersebut bertuliskan kritikan, keadaan, dan solusi. Siti Robingah, mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan turut menuliskan, “Ujian Nasional=Musibah Nasional. UN bukannya memperbaiki moral justru yang terjadi lebih mengejar nilai akademik yang tinggi semata,” solusinya, "No UN.”
Seluruh LK kemudian menyuarakan serentak di tengah-tengah acara, “Saya siap beraksi untuk pendidikan yang lebih baik. Kegiatan ini bertujuan mengajak seluruh mahasiswa FIP untuk lebih peduli dan peka terhadap isu-isu pendidikan saat ini. Menurut Isna Laili Hikmah, ketua panitia orasi, calon pendidik adalah salah satu komponen yang nantinya akan mengubah wajah pendidikan Indonesia suatu hari nanti. “Setidaknya dengan gerakan kecil ini, kita sebagai mahasiswa bisa menggagas aksi peduli pendidikan Indonesia dalam rangka memperingati Hardiknas,” tambahnya.
Banyak anak-anak yang belum menikmati pendidikan, nyatanya masih banyak anak-anak yang jadi pengemis. Masih banyak terjadi pelecehan dalam dunia pendidikan, papar Dedi P, wakil ketua Hima PG PAUD.
Berbeda dengan tahun lalu, yang diperingati melalui aksi bunga sebagai wujud berkabung mengenai UKT dan juga pelaksanaan UN yang molor, tahun ini diperingati melalui aksi kecil menyuarakan aspirasi mahasiswa sebagai wujud kepedulian pada pendidikan Indonesia.
Isna juga mengatakan bahwa dengan acara orasi ini, mahasiswa umum juga bisa menuliskan sebuah solusi terhadap keadaan pendidikan di Indonesia. “Tindak lanjut kegiatan ini adalah kita menggodok bersama teman-teman terhadap solusi yang telah dituliskan teman-teman mahasiswa yang kemudian akan dibahas bersama teman-teman Hima,” tandas mahasiswa asal Brebes ini. Irkham, turyati

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Soroti Wajah Pendidikan Indonesia"

Posting Komentar