Multikultural, Sebuah Keniscayaan


LINI DOK.
Penciptaan manusia yang heterogen bertujuanuntuk beribadah dan saling mengenal. Pemahaman terhadap multikultural sudah ada sejak zaman nabi Muhammad yang menyatukan kaum Muhajirin dan Kaum Anshor. Al-Quran menjamin dan mengakui adanya pluralitas sertaberlomba dalam hal kebaikan. Hal ini mengemuka dari pemaparan Toni Apriyanto dalam Kafe Ukhuwah yang diselenggarakan oleh Fummi FIP, Selasa (15/4)
Perbedaan, menurut Toni,merupakansuatu keniscayaan yang datang dari Allah. Perbedaan tak boleh dijadikanhal yang memicu perselisihan, melainkan fasilitas yang tersediaagar dapat membangun kedamaian.Perbedaan pasti ada dalam kehidupan. Harusnya perbedaan membuat kita bersemangat untuk bersatu, perbedaan itu indah,” tambah Toni.
Ketua panitia Yoga Ekatama mengatakan bahwa Rasulullah SAW memiliki sikap toleransi terhadap agama lain dalam masyarakat yang multikultural. “Terkadang,orang-orang lebih cenderung memikirkan diri sendiri, kurang toleransi,” tambah Yoga.
Sementara itu, menurut Ela Resti Fajrin, salah satu peserta kajian menyatakan bahwa materi studi kasus dalam kajian tersebut baru pada khususnya saja, belum sampai ke multikultural yang luas dan belum mengena ke aspek-aspek yang lain. “Tadi kayaknya lebih seperti ideologi begitu,” ungkapnya.
Resti mahasiswi BK angkatan 2012 mengatakan bahwa yang berbeda itu justru memberi warna tersendiri. “Tetap jadi diri sendiri karena memang perbedaan itu tidak perlu dihilangkan. Perbedaan itu indah,” pungkasnya.

Bertempat di GSG FIP, kegiatan yang diagendakan dua minggu sekali oleh Fummi FIP ini bertemakan Pelangi Tanah Air yang membahas tentang multikultural.Ika, Nadya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Multikultural, Sebuah Keniscayaan"

Posting Komentar