Konservasi dan Rekreasi


Oleh Marfuah L Hikaru

Tak hanya sebagai tempat belajar, Unnes Konservasi juga menjadi tempat yang nyaman untuk rekreasi.

Muda-mudi nampak sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Bermain badminton, bola voli, dan lari-lari. Bahkan ada pula yang mengajak anaknya bermain-main. Lelaki berkaos merah sedang memangku seorang bayi di taman tugu Unnes konservasi. Muji (33) sesekali bercanda dengan seorang anak. Aulia, bayi berusia satu setengah tahun tersenyum menimpali candaan dari ayahnya. Lelaki asal Demak ini mengatakan telah lama berdomisili di Mangunsari, Gunungpati. Jarak kurang lebih tiga kilo meter Mangunsari-Unnes tidak mengurungkan lelaki dua anak ini untuk mengajak anak-anaknya bermain di taman Unnes.

Muji sebagai warga di sekitar Unnes merasakan perubahan secara fisik Unnes. Menurutnya dengan kondisi fisik Unnes yang indah, lebih senang mengajak anak-anaknya ke taman Unnes mengenalkan alam secara gratis.“Dulu Unnes tidak serindang ini, sekarang banyak sekali pohon dan tamannya juga indah. Tempat ini cocok untuk pengenalan alam pada anak-anak daripada mereka nge-gamesdi rumah,” ungkapnya sore itu, Rabu (26/3).

Muji pun mengenang masa-masa dulu ketika setiap akhir pekan ia mengajak keluarganya mengikuti kegiatan di Krempyeng Nyeni. Ya, Unnes pernah menyelenggarakan kegiatan bernama Krempyeng Nyeni. Kegiatan yang dibuka untuk umum setiap Minggu pagi. Acara yang menawarkan berbagi kegiatan seperti senam bersama, peminjaman sepeda, dan bazar aneka makanan, buku,dan barang dagangan lainnya. Tidak hanya masyarakat yang berdagang, namun mahasiswa juga ikut serta menjajakan barang dagangan inovasinya. Namun, saat ini kegiatan ini tidak terdengar lagi.

Sementara Ratna mahasiswa Prodi Ilmu Politik semester empat memanfaatkan keindahan taman Unnes untuk berfoto ria bersama teman sebayanya. Kamera digital ia tenteng sembari membidik Gita teman kuliahnya yang berpose di depan tanaman yang indah tertata rapi. Di seberang jalan nampak beberapa pemuda sedang asyik memutar-mutar papan skateboard. Terjatuh lalu bangun dan mencoba untuk melayangkan papan di atas besi berkarat. Ya, Bowo mahasiswa Podi Ilmu Keolahragaan semester empat ini setiap sore mengolah kemampuannya bermain skateboard. “Ada tidak adanya orang, setiap sore pasti latihan di sini. Kecuali hujan,” tuturnya. Lanjut ia berkata dengan nada lirih, “Ngeceng-ngeceng juga sih. Harus itu. Sudah banyak yang kecanthol pokoknya. Haha,” ungkapnya diikuti dengan tawa.


Awalnya memang Bowo bermain skateboard untuk tebar pesona. Namun, saat ini ia mengaku sudah ingin mengganti niatnya. “Sudahlah iseng-isengnya. Saat ini saya ingin fokus meningkatkan kemampuan untuk mengikuti kompetisi,” katanya mantap.

Keahlian para awak pemain skateboard ini menggoda banyak orang untuk sejenak meluangkan perhatian. Fajar namanya seorang bocah berusia enam tahun sedari awal mengamati gerak-gerik rekan-rekan Bowo. Sesekali tersenyum kecil dan berjingkrak jika mereka mampu melayang di atas besi. Namun, ia akan memegang kepala dan memalingkan wajah jika papan tak menabrak besi dengan sempurna. “Arghhh!,” gerutunya.

Lebih lanjut Bowo mengatakan Unnes termasuk salah satu kampus yang asyik. Kampus yang enak untuk sekadar bersantai ria. Dari kejauhan nampak seorang perempuan sedang duduk di atas motor memanggilnya halus. “Sudah dulu ya,” ucapnya sembari tersenyum, dengan papan skateboard ia meluncur menghampiri perempuan tadi. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Konservasi dan Rekreasi"

Posting Komentar