Ada Pengobat Cinta di Selasa Legen


Oleh L dan Eva R Utomo
Gong, Bonang, serta alunan suara vokal dari beberapa penambang berkolaborasi membentuk gelombang sakral tembang jawa. Malam itu, malem Selasa Legi (26/5) sedang dilaksanan sarasehan budaya di pelataran teras Auditorium Unnes. Acara itu rutin dilakukan setiap Selasa Legi sebagai upaya “Nguri-uri” budaya.
Ki Bimurwoto Bigutomo (kanan), menjadi pembicara di acara Selasa Legen yang diselenggarakan di depan Auditorium Unnes. Foto: L
Beberapa mahasiswa terlihat mendatangi Auditium. Seperti mahasiswa lainnya nyaris tak ada perbedaan fisik yang nampak. Biasanya kedatangan mahasiswa dalam sebuah acara bisa diartikan sedang mendapat tugas kuliah. Apalagi acara itu berhubungan dengan budaya. Alasan penugasan menjadi lumrah bagi mahasiswa. Bisa jadi, ada kelemahan sikap mahasiswa memahami sebuah kegiatan.
Sebuah rombongan mahasiswi terlihat sudah sibuk sebelum acara dimulai. Mereka tangah mempersiapkan kudapan untuk acara tersebut. Wedang jahe, kopi, teh, beserta kacang, ketela, dan pisang rebus mereka tata. Siap dibagikan kepada para hadirin.
Salah satu dari mereka, Reni panitia acara tersebut mengaku kali ini sibuk mengurusi acara Selasa Legen sebagai upaya melupakan kisah cintanya yang baru saja kandas. Bagi Reni, acara Selasa Legen yang sarat makna mampu membawanya tenggelam dalam sebuah pekerjaan, hingga dia mampu keluar dari musuh besar bernama kesepian.
Mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Jawa itu seolah bisa lupa diri, lupa waktu, hingga lupa masalah kisah cintanya yang patah. “Pengobat untuk hati yang sakit itu salah satunya berada di sekitar orang-orang. Acara ini salah satu di mana orang-orang berkumpul,” ungkap Reni.
Pada sarasehan bertajuk kebudayaan ke-52 bertajuk Penanggalan Jawa” itu, hadir sebagai pembicara  Ki Bimurwoto Bigutomo. Budayawan dari Jawa Timur itu terlihat tua. Bukan berarti dia renta. Ada semangat membara terpancar darinya ketika membawakan materi sarasehan.
Sarasehan budaya tersebut merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap Selasa Legi. Prosesi acara yang dilangsungkan mungkin menjenuhkan. Artinya setiap acara ini dilaksanakan dengan ritme dan ketentuannya hampir mirip setiap kali berlangsung. Kolaborasinya pasti, karawitan, cokekan, macapatan, tari, pembacaan gurit.
Tapi bukan berarti repitisi itu membosanakan, bagi Hanif, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, mengikuti acara sarasehan semacam ini adalah upayanya mencari ilmu. “Jika beberapa anak muda beranggapan sarasehan budaya Jawa terkesan saklek, sebenarnya tidak. Karena pembicara menggunakan bahasa yang komunikatif,” ungkap Hanif.
Alfi, teman Hanif yang duduk di sebelahnya juga mengaku acara seperti sarasehan budaya perlu dimaknai oleh para pemuda. Apalagi di tingkatan mahasiswa. “Padahal saya sendiri heran, mahasiswa dharmasiswa dari Thailand, Amerika dan Jepang saja juga ikut hadir,” tanya Alfi retoris.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ada Pengobat Cinta di Selasa Legen"

Posting Komentar