Pendewasaan Demokrasi



Mengawali edisi perdana merupakan sebuah kebanggan. Energi masih terasa penuh. Melakukan sesuatu seolah mati esok hari. Apalagi dalam proses kerja jurnalistik butuh proses pencarian terus-menerus melalui tahap klarifikasi, cek dan ricek, temuan bukti dan sebagainya.

Proses “pembacaan” karya jurnalistik selalu melibatkan unsur kognisi dan afeksi seseorang terhadap obyek berita. Beragam reaksi akan muncul, baik rasa kagum, empati atau pujian. Bisa pula sinis, emosi atau marah-marah.

Etos menjaga keberimbangan pemberitaan (cover both sides) menjadi penting bagi para jurnalis. Sembari menyadari bahwa karya jurnalistik tidaklah sempurna (zero defect). Menggunakan hak jawab atau hak koreksi, seperti diatur UU Pers merupakan jalan terbaik bagi siapapun yang dirugikan akibat pemberitaan Pers.

Penggunaan Hak Jawab dan Hak Koreksi, bagi yang dirugikan adalah langkah bijak dan cerdas dalam rangka melakukan pembelajaran bersama dengan tetap membela dan memperjuangkan hak-haknya tanpa harus menyakiti kemerdekaan Pers itu sendiri.

Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers, penyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan akibat karya jurnalistik memang harus diselesaikan dengan mekanisme jurnalistik pula.


Seperti biasa disampaikan Dewan Pers bahwa “sesungguhnya pers yang profesional bukanlah pers yang tak mungkin tak pernah salah. Tetapi, pers professional adalah pers yang jujur mengakui kesalahan.” Dalam rangka proses pembelajaran dan pendewasaan demokrasi itulah, pers merupakan sarana ideal.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendewasaan Demokrasi"

Posting Komentar