Belajar dari Sinetron


Siapa sih yang nggak kenal sinetron? Meski ada yang tak menjadikannya sebagai tayangan favorit, namun pastinya hampir seluruh masyarakat Indonesia tahu tentang sinetron.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Survei Nielsen diketahui bahwa pada tahun 2014 dari 6,8 juta penonton televisi sebanyak 1,4 jutanya menonton sinetron. Sisanya menonton program hiburan lainnya, seperti; komedi, kuis, games, talkshow, musik, dan tayangan lainnya.

Seringkali disaksikan, kebanyakan penokohan yang ada dalam sinetron hampir sama. Biasanya dengan memiliki perangai yang begitu baik, nyaris sempurna tanpa memiliki cacat perilaku, protagonis. Namun, di sisi lain ada yang berperangai begitu buruk, tak sedikitpun memiliki hati nurani yang menuntun kepada kebaikan, antagonis.

Kemudian, mungkin akan muncul pertanyaan pada diri kita, “kok ada ya orang sebaik itu?” atau sebaliknya, ”kok ada ya orang sejahat itu?” Apa benar-benar ada? Ya, mungkin saja ada di Negeri Antah Berantah sana.

Coba Anda amati, sebagai contoh sederhana, si tokoh protagonis di bagian akhir ceritapasti akan mendapatkan kebahagiaan yang diraih atas perbuatan terpujinya. Sebaliknya, si tokoh antagonis, di bagian akhir cerita pasti akan mendapatkan kesialan atau kesengsaraan dalam hidup yang disebabkan oleh perbuatan buruknya.

Penokohan di sinetron ini bisa menjadi referensi hidup bagi kita untuk dapat mengambil hikmah atau pelajaran hidup dari apapun yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Kuncinya, tanamkanlah dalam diri kita untuk selalu berpikir positif dengan mengambil yang baik-baik dari setiap kejadian yang dialami. Walaupun hal ini diambil dari sinetron yang ceritanya monoton dan mudah ditebak itu.

Kirana Prameswari
Redaktur Pelaksana Express


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar dari Sinetron"

Posting Komentar